2Banner GIF 2021

Enam Pejabat Perum Perindo Diperiksa Jampidsus

Enam Pejabat Perum Perindo Diperiksa Jampidsus
Ilustrasi

Nasional, gemasulawesi- Enam pejabat Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) jalani pemeriksaan sebagai saksi oleh Jaksa Agung Muda bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan usaha tahun 2016-2019.

“Enam orang saksi yang terkait dengan Dugaan Perkara Tindak Pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha perusahaan umum perikanan Indonesia Tahun 2016-2019 menjalani pemeriksaan,” terang Kapuspenkum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak Kamis 4 November.

Baca juga: Anleg Tanjung Barat Jadi Tersangka Kasus Pencurian Kelapa Sawit

Jampidsus Kejagung memanggil MAA selaku Manager Produksi Perum Perindo Tahun 2017, GEB selaku Manager Sarana Prasarana Perum Perindo, AH selaku Kepala Cabang Belawan Perum Perindo dan AK selaku Ketua SPI Perum Perindo sebagai terperiksa.

Kemudian, ARH selaku Kepala Departemen Litigasi Perum Perindo; BA selaku Sekretaris Perusahaan Perum Perindo. Mereka diperiksa terkait penyidikan dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha Perum Perindo tahun 2016-2019.

Baca juga: Sempat Kabur, Tim Temukan Pasien Positif Corona RSU Anutapura Palu

“Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi yang terjadi di Perusahaan Umum Perikanan Indonesia,” ujar Leonard.

Terkait perkara dugaan korupsi di Perum Perindo. Kejagung telah menetapkan Syahril Japarin, mantan Direktur Utama Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo), sebagai tersangka kasus dugaan korupsi.

Baca juga: Bulog Telah Selesaikan Distribusi Bantuan Beras PKH

Lanjut Leonard, saat ini Syahril japrin bekerja sebagai deputi bidang pengusahaan sarana usaha badan pengusahaan Batam.

“Selain Syahril, penyidik Kejaksaan Agung juga menetapkan satu tersangka lainnya berinisial RU. Tersangka RU merujuk pada Riyanto Utomo, menjabat sebagai Direktur Utama PT Global Prima Santosa,” ungkap Leonard.

Baca juga: Perum Bulog Jawa Timur Salurkan Bantuan Beras ke Ribuan KPM

Kedua tersangka tersebut saat ini telah menjalani penahanan setelah sebelumnya sempat diperiksa sebagai saksi.

Penahanan terhadap dua tersangka dilakukan terpisah, Syahril Japarin ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, sedangkan Riyanto Utomo ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung.

Baca juga: Bulog Sebut Temuan Beras Bansos Rusak Disebabkan Cuaca Buruk

“Untuk mempercepat proses penyidikan dilakukan penahanan selama 20 hari,” kata Leonard.

Adapun peran tersangka, Leonard menjelaskan, Syahril pada saat menjabat sebagai Direktur Utama Perum Perindo menerbitkan surat utang jangka menengah (MTN) dan mendapatkan dana sebesar Rp200 miliar, terdiri atas sertifikat Seri Jumbo A dan Seri Jumbo B tahun 2017.

Lalu, pada Bulan Desember 2017 Rp100 miliar dengan return 9,5% dibayar per triwulan dalam jangka waktu tiga tahun yang jatuh tempo pada bulan Desember 2020. Dari situ maka MTN atau hutan jangka menengah diterbitkan di tahun 2017 sebesar Rp200 miliar untuk digunakan sebagian besar dananya buat modal kerja perdagangan.

“Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya pendapatan perusahaan yang di tahun 2016 sebesar kurang lebih dari Rp233 miliar meningkat menjadi kurang lebih Rp603 miliar dan mencapai kurang lebih Rp1 triliun di tahun 2018. Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan perdagangan,” terang Leonard.

Karena fokus dengan pencapaian yang dilakukan dengan melibatkan semua unit usaha untuk perdagangan. Sehingga menimbulkan permasalahan kontrol transaksi perdagangan menjadi lemah, dimana masih terjadi transaksi walau mitra terindikasi macet. (**)

Baca Juga: Bulog Klaim Isu Harga Beras Turun Bukan Akibat Impor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post