2Banner GIF 2021

Dunia Kesehatan Sambut Positif Vaksin Covid 19 di Indonesia

Dunia Kesehatan Sambut Positif Vaksin Covid 19 di Indonesia Badan POM
Foto: Ilustrasi Dunia Kesehatan Sambut Positif Vaksin Covid 19.

Berita nasional, gemasulawesi- Perusahaan teknologi kesehatan yang merupakan bagian dari dunia kesehatan, menyambut positif kehadiran vaksin Covid 19 di Indonesia.

“Halodoc tentunya senantiasa mendukung upaya dari berbagai pihak. Ini juga sejalan dengan komitmen kami bahu membahu dalam membuat Indonesia kembali sehat sehingga perekonomian dan aktivitas masyarakat dapat kembali normal,” ungkap CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan, selaras dengan upaya pemerintah melakukan mitigasi percepatan penanganan Covid 19, Halodoc yang merupakan platform digital di dunia kesehatan turut memberikan akses paling lengkap bagi pembuatan janji tes Covid 19 di Indonesia.

Baca juga: Disiplin, Vaksin Virus Corona Terbaik

“Dan kami akan terus berupaya menyederhanakan akses layanan kesehatan di masa depan agar tetap dapat menjadi teman hidup sehat bagi masyarakat Indonesia,” lanjutnya.

Dalam wawancara terpisah, Danu Wicaksana, Managing Director Good Doctor platform digital di dunia kesehatan, juga menyambut positif rencana pengadaan vaksin covid 19 dalam negeri, bahkan pihaknya juga siap membantu jika dibutuhkan.

“Kami menyambut baik upaya-upaya pemerintah untuk menangani pandemi Covid 19, termasuk rencana untuk menghadirkan vaksin Covid 19 yang aman di Indonesia.  Kami berharap hal ini dapat meningkatkan harapan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat sehingga dapat kembali beraktivitas dengan lebih optimal,” terangnya.

Baca juga: Prof Sri: Vaksinasi Standar Kesejahteraan Sebuah Negara

Sementera itu, Ketua ITAGI Prof DR dr Sri Rezeki S Hadinegoro, SpA (K) mengatakan, dunia kesehatan dan masyarakat Indonesia menerima dengan baik pelaksanaan vaksinasi Covid 19. Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan besar untuk segera mengakhiri pandemi virus corona.

Gambaran itu didapat dari hasil survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) yang didukung UNICEF dan WHO tentang penerimaan vaksin Covid 19, dua pertiga dari responden menyatakan bersedia menerima vaksin Covid 19. Survei dilakukan di 34 provinsi dengan 115.000 responden.

Baca juga: Ribuan Masyarakat Antusias Daftar Relawan Vaksin Covid 19

Peran Badan POM Terkait Vaksin Covid 19

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menjaga dan kawal keamananan, khasiat serta mutu vaksin covid 19.

Dengan memprioritaskan asas kehati-hatian dan kemanfaatan, vaksin benar-benar diupayakan agar memberikan khasiat sebesar-besarnya untuk masyarakat luas.

Ada tiga hal yang tidak bisa ditawar sedikitpun dalam hal vaksin, yaitu keamanan, khasiat dan mutu. Apalagi saat pandemi ini dimana kehadiran vaksin jadi hal yang sangat penting.

Baca juga: Badan POM Kawal Keamanan Khasiat dan Mutu Vaksin Covid 19

Indonesia telah mempunyai beberapa kandidat vaksin covid 19 yang akan digunakan untuk pemulihan kesehatan masyarakat luas.

“Sebagai lembaga pemerintah di bidang pengawasan obat dan makanan, Badan POM mengambil langkah-langkah strategis pengawalan penyediaan vaksin covid 19 dengan tetap mengedepankan kepentingan kesehatan masyarakat,” ujar Dra. Togi J Hutadjulu Apt MHA, Plt Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif Badan POM.

Badan POM sebagai bagian dari Komite Penanganan covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) memperhatikan arahan Presiden Joko Widodo tentang perlunya kehati-hatian terkait rencana vaksinasi covid 19 kepada masyarakat luas.

Baca juga: Izin Penggunaan Darurat Vaksin, Butuh Kepastian Keamanan dan Mutu

Vaksin covid 19 harus melalui tahap penelitian yang baik dan benar sebelum dinyatakan siap dan aman diberikan kepada masyarakat.

Badan POM memiliki standar dalam pemberian izin penggunaan vaksin, yaitu harus melalui proses uji klinik atau uji kepada manusia untuk pembuktian keamanan, khasiat dan mutunya.

Mutu produk juga harus dijamin melalui evaluasi persyaratan mutu dan pemastian pembuatan vaksin sudah sesuai dengan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Setelah proses evaluasi tersebut dilalui dan vaksin dianggap memenuhi syarat dari aspek keamanan, khasiat, dan mutu, barulah Badan POM dapat memberikan perizinan penggunaan.

Izin Penggunaan Darurat Vaksin

Satgas Imunisasi IDAI menyebut izin penggunaan darurat vaksin covid 19 mesti memperhatikan beberapa aspek.

“Izin itu diberikan badan regulator di negara masing-masing, untuk Indonesia itu berarti Badan POM. Penting diketahui juga persetujuan darurat itu hanya untuk pemakaian terbatas di saat pandemi dan EUA bukanlah izin edar. Tentunya EUA harus perhatikan aspek keamanan, khasiat dan mutu,” ungkap Ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof Dr dr Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, di Jakarta, Rabu 4 November 2020.

Sebagaimana telah disebutkan, salah satu cara percepatan yang diperbolehkan adalah dengan adanya Izin Penggunaan Darurat atau EUA.

Ia juga mengatakan, Izin Penggunaan Darurat Vaksin yang diberikan badan regulator mempertimbangkan rasio kemanfaatan dan risiko, berdasarkan seluruh data mutu, non klinik dan klinik serta risiko kondisi kesehatan masyarakat yang ditimbulkan penyakit.

Selain itu, data uji klinik untuk memastikan keamanan dan khasiat serta mutu vaksin untuk digunakan masyarakat.

“Menurut WHO, syarat sebuah vaksin dapat diberikan EUA adalah minimal 50 persen relawan sudah divaksinasi secara penuh dan terus dipantau selama 3 bulan setelah suntikan terakhir. Hal itu juga berlaku untuk vaksin jadi yang diimpor,“ jelasnya melalui pesan singkat.

Prof Cissy yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran menjelaskan, semenjak pemerintah mendeklarasikan Indonesia terkena Pandemi covid 19 pada ada awal Maret lalu. Jumlah kasus covid 19 terus meningkat sampai saat ini.

Usaha untuk menurunkan atau memutus rantai penularan telah dilaksanakan. Namun, masyarakat masih banyak yang tidak patuh melaksanakan protokol kesehatan dan masih senang berkumpul dan tidak menghindari kerumunan. Oleh karena itu dibutuhkan usaha lain untuk mengurangi transmisi virus yaitu dengan vaksin.

Indonesia membutuhkan vaksin untuk melindungi rakyatnya terhadap penularan virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan covid 19.

“Secara normal pengembangan suatu vaksin baru memerlukan waktu lama. Namun, WHO memperbolehkan adanya percepatan pengembangan vaksin covid 19 karena kebutuhan yang mendesak saat pandemi,” tuturnya.

Ribuan Masyarakat Daftar Relawan Vaksin Covid 19

Ribuan masyarakat Indonesia mendaftarkan diri untuk berkontribusi menjadi relawan uji klinis vaksin covid 19.

“Masyarakat terlihat sangat antusias,” ungkap Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjadjaran, Profesor Dr. Kusnandi Rusmil dalam Dialog Produktif “Kelanjutan Uji Klinis Vaksin Covid 19″ di Media Center Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), beberapa waktu lalu yang dilaksanakan secara virtual.

Kebutuhan tim riset uji klinis vaksin yang bekerjasama dengan Bio Farma dalam mengembangkan vaksin Sinovac 1620 orang, namun pendaftar relawan sebanyak 2200 orang.

Meski begitu, tidak semua pendaftar langsung bisa menjadi relawan uji klinis vaksin covid 19. Ada protokol ketat yang diterapkan untuk menyaring peserta yang memenuhi persyaratan.

“Yang diberikan pada orang-orang sehat berumur 18-59 tahun. Kita pemeriksaan dulu, rapid test dan swab test. Setelah diketahui negatif, tiga hari kemudian dia datang. Kita berikan imunisasi, sebelumnya kita ambil darahnya. Empat belas hari kemudian disuntik lagi yang kedua. Kemudian tiga bulan kemudian diambil darah (lagi), enam bulan kemudian diambil darah,” terang Prof Kusnandi.

Selama rentang waktu enam bulan, seluruh 1620 peserta diperiksa kesehatannya dan reaksi tubuh terhadap vaksin yang disuntikan pada mereka.

Selain melakukan uji klinis vaksin pada peserta, Tim peneliti dari Universitas Padjadjaran juga memantau kualitas vaksin yang dikembangkan Bio Farma dalam periode yang berbeda.

“Kita juga melihat batch consistency. Kita melihat beberapa vaksin yang dibikin Bio Farma itu pada bulan-bulan yang berlainan. Sehingga, kita lihat apakah konsisten tidak hasilnya,” tutur Prof Kusnandi, di Media Center Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Hasil Uji Klinis inilah yang akan menjadi pegangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) untuk mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) ataupun persetujuan kelayakan penggunaan vaksin ke masyarakat.

“Oleh karena itu, kami sangat berharap data uji klinis fase ketiga ini dapat memberikan pembuktian bahwa vaksin tersebut berkhasiat dan aman. Kami akan melihat tuh datanya, keamanannya bagaimana, persentase kejadian efek samping dan sebagainya seberapa besar. Kemudian paling penting juga adalah khasiatnya bagaimana,” ujar Dr. Lucia Rizka Andalusia, Apt. M.Pharm, MARS, Direktur Registrasi Obat Badan POM, di Media Center Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Tim riset Uji Klinis Vaksin Covid 19 dari Universitas Padjadjaran memang sudah mempunyai riwayat kredibilitas dalam melakukan uji klinis vaksin.

Baca juga: 18 Tambahan Baru, Positif Covid 19 Sulteng Tembus 817 Kasus

(KPCPEN / Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post