Banner Disperindag 2021 (1365x260)

DPRD Sulawesi Tengah Nilai Testing dan Tracking Belum Masif Dilakukan

DPRD Sulawesi Tengah Nilai Testing dan Tracking Belum Masif Dilakukan
Foto: Illustrasi swab tes.

Gemasulawesi- DPRD Sulawesi Tengah menilai testing dan tracking belum masif dilakukan diduga menjadi penyebab utama peningkatan jumlah kasus covid19. Ia menilai saran WHO belum dilakukan Pemprov dan Pemkot Palu kurang.

“Sehingga, tanpa disadari banyak OTG berkeliaran dan menularkan ke orang lain,” ungkap Ketua DPRD Sulawesi Tengah, Nilam Sari Lawira, di Kota Palu, Minggu 15 Agustus 2021.

Menurut dia, testing dan tracking belum masif. Namun, jika saran WHO dilakukan secara maksimal, pemerintah melalui masing-masing Tim Satgas penanganan covid19 akan memperoleh data riil.

Baca juga: DPRD Parimo Dukung Pengadaan Alat PCR Covid 19

Sehingga, dari data itu bisa disimpulkan kebijakan dan penanganan tepat.

“Saat ini kan data yang kita punya hanya berdasarkan laporan terkonfirmasi saja, bukan berdasarkan testing dan tracing. Jadi menurut saya data itu masih semu bukan data real. Sehingga penanganan dan kebijakannya ya longgar dan tidak tepat,” ucapnya.

Ia mengatakan, testing dan tracking belum masif, makanya untuk memutuskan rantai penyebaran covid19 harus dilakukan secara bergotong royong. Dari semua pihak, baik itu pemerintah hingga masyarakat.

“Padahal itu sudah saya sampaikan waktu pertemuan forkompimda dan gubernur serta seluruh bupati dan walikota pada saat pembahasan penanganan covid19 secara virtual,” katanya.

Diketahui, kasus positif covid19 di Kota Palu dan Kabupaten Banggai memiliki tren meningkat. Kota Palu sebanyak 7345 kasus dan Kabupaten Banggai 5.604 kasus.

Dalam laporan Pusdatina covid19 Sulteng, jumlah kumulatif per 15 Agustus 2021 sebanyak 35.051 kasus. Peningkatan kasus diduga karena testing dan tracking belum masif.

Baca juga: Kemenkes: Penurunan Kasus Terkonfirmasi Covid19 Sebanyak

18 pegawai TVRI positif covid19

Sebelumnya, kantor Televisi Republik Indonesia (TVRI) Sulawesi Tengah ditutup sementara atau lockdown selama dua pekan. Ketentuan itu diberlakukan setelah 18 pegawai terkonfirmasi positif virus Corona.

“Aktivitas untuk penyiaran siaran lokal kami tiadakan sementara atau lockdown. Hal itu dilakukan karena terkonfirmasinya 18 orang pegawai setelah digelarnya swab antigen di lingkungan TVRI Sulteng,” tutur Kepala Stasiun TVRI Sulteng Prasojo, Jumat 13 Agustus 2021.

Dia mengatakan, 18 pegawai positif covid19 saat ini sedang menjalani isolasi mandiri. Lima di antaranya dinyatakan sembuh.

“Lima di antara 18 pegawai yang positif covid19 sudah dinyatakan sembuh. Kami pun berharap semuanya lekas sembuh agar siaran lokal TVRI Sulteng bisa kembali beroperasi,” ucapnya.

Dalam Surat Edaran TVRI Sulteng Nomor 01/SE/II.24/TVRI/2021 , lockdown dilakukan untuk mengurangi tingkat penyebaran covid19 di lingkungan TVRI Sulteng sejak 11 Agustus hingga 22 Agustus 2021. (***)

Baca juga: DPR Minta Pemerintah Perluas Testing dan Tracing Covid 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post