DP2KB Sulteng Akan Danai Dua Program Prioritas Parimo

  • Whatsapp
DP2KB Sulteng Akan Danai Dua Program Prioritas Parimo
Kabid Sosbud Bappelitbangda Parimo, Sahid Badja (Foto: Rafii)

Parimo, gemasulawesi.comDua program prioritas Kabupaten Parigi moutong (Parimo) penanganan stunting, rencananya akan didanai Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana atau DP2KB Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) tahun anggaran 2020.

“Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan pembinaan remaja Parigi Moutong yang menjadi target program prioritas DP2KB Sulawesi Tengah,” ungkap Kabid Sosial Budaya Bappelitbangda Parimo, Abd. Sahid Badja, di kantor Bappelitbangda Parimo, Senin, 11 November 2019.

Bacaan Lainnya

Program terkait 1000 HPK kata dia, lebih kepada aplikasi program pola asuh. Sedangkan, program pembinan remaja seperti penanganan perkawinan dini, pra perkawinan dan usulan kegiatan kemah remaja untuk penanganan stunting.

Ia melanjutkan, terdapat program penanganan stunting lainnya yang disuguhkan, berupa sosialisasi melalui Diskominfo Parimo. Contohnya, sosialisasi, penyediaan pamflet dan bentuk penyiaran broadcast radio dengan menggunakan masing-masing bahasa daerah setempat.

Baca juga: Buol Sulawesi Tengah Dapat 135 Alokasi Formasi CPNS 2019

Kemudian, program HPK dan alat pengukuran stunting berada di Dinas Kesehatan, penanganan kemiskinan di Dinas pertanian serta Peternakan, dan program sanitasi di DPUPRP.

“Kami hanya berfungsi sebagai koordinator. Sehingga, apapun kebutuhan DP2KB diarahkan kepada program OPD terkait,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala DP2KB Provinsi Sulawesi Tengah, Rusdi B Rioeh mengatakan Provinsi Sulawesi Tengah termasuk pada angka nasional mengenai stunting.

Sehingga, pihaknya berkewajiban untuk melakukan langkah intervensi dan hal-hal terkait sosialisasi stunting.

“Targetnya, menyelesaikan secara maksimal penurunan stunting di Provinsi Sulawesi Tengah. Khususnya di kabupaten Parigi Moutong,” tegasnya.

Baca juga: Disdukcapil Sulawesi Barat Target GISA

Wakil Bupati Parigi Moutong, Badrun Nggai pun mengatakan yang sama. Stunting yang disebabkan pengaruh lingkungan dapat dicegah.

Menurutnya, permasalahan yang dihadapi keluarga saat ini adalah masalah kesehatan reproduksi pada remaja. Kemudian, gizi yang akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia.

“Remaja saat ini diperhadapkan pada masalah perilaku seksual yang berisiko kepada pernikahan anak, kehamilan yang tidak diinginkan, terinfeksi penyakit seksual menular dan aborsi,” tuturnya.

Sehingga lanjut dia, akan berdampak pada kematian, melahirkan anak yang kekurangan gizi atau stunting serta masalah kesehatan reproduksi lainnya.

Ia mengatakan, pengaruh stunting dapat berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, serta kesenjangan pada keluarga.

“Pencegahan maupun penurunan stunting dibutuhkan peran, upaya serta kerjasama bersama untuk mendukung terwujudnya gizi seimbang,” pungkasnya.

Baca juga: Ini aftar 67 Alokasi Formasi CPNS Majene Sulawesi Barat 2019

Laporan: Muhammad Rafii

banner 728x90

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar