Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Distribusi Vaksin Covid19 Prioritas ke Wilayah Kasus Kematian Tinggi

Distribusi Vaksin Covid19 Prioritas ke Wilayah Kasus Kematian Tinggi
Foto: Illustrasi vaksin covid19.

Gemasulawesi– Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui, adanya ketimpangan dalam distribusi vaksin covid19 di Indonesia. Sebab, pihaknya prioritas ke wilayah kasus kematian tinggi secara epidemologi.

“Contoh kenapa kita ke tenaga kesehatan duluan di vaksin? Karena tenaga kesehatan berisiko, kenapa orangtua? Karena berisiko, begitu juga dengan daerah kita berikan ke yang berisiko kasus paling tinggi dan kematian tinggi,” ungkap Budi dalam konferensi pers secara virtual, Senin 2 Agustus 2021.

Langkah distribusi vaksin covid19 prioritas ke wilayah kasus kematian tinggi itu, dilakukan untuk mengurangi angka kematian di kabupaten/kota dengan kasus tertinggi.

Baca juga: Dinkes Parigi Moutong Kembali Distribusi 4 Ribu Vaksin Covid 19

Dia pun mengakui, adanya ketimpangan dalam distribusi vaksin covid19 di Indonesia. Sebab, hingga Juli, pemerintah baru menerima 90 juta dosis vaksin atau 22 persen dari total 420 juta dosis vaksin dibutuhkan.

“Kalau ada teman-teman di daerah kita enggak kebagian vaksin, vaksinnya kita suntik baru sekian ratus ribu. Selama itu masih 22 persenan itu sama dengan rata-rata nasional, karena kita juga baru terima vaksinnya segitu,” jelasnya.

Pihaknya memastikan akan menambah stok distribusi vaksin covid19 prioritas ke wilayah kasus kematian tinggi di daerah-daerah. Apabila sudah mulai menipis.

Budi mengatakan, 72 juta dosis vaksin akan diterima pada pekan keempat bulan Agustus. Disusul, 70 juta dosis vaksin pada bulan September nanti.

Kemenkes menargetkan, dari Agustus hingga Desember, pemerintah akan mendapatkan 258 juta dosis vaksin.

“Kalau ini semuanya bisa datang ke Indonesia sesuai dengan jadwal, dari bulan Agustus-Desember kita akan memiliki 331 juta dosis vaksin ditambah tadi yang 90 jutaan sudah kita terima, jadi kita kira sudah cukup untuk memvaksinasi 200 juta rakyat Indonesia,” ujarnya.

Jika jumlah dosis vaksin diterima pemerintah meningkat pada Agustus-September, maka penyuntikan vaksin harus 3 kali lebih tinggi dari sebelumnya.

“Contoh untuk kota masuk epidemiologi tertinggi kasusnya, itu sehari suntikan 380 ribu, nanti bulan ini harus naik 1,2 juta, kalau benar-benar kita mau efisiensi vaksin,” kata dia.

Menkes klaim kasus covid19 Jawa-Bali menurun pasca PPKM

Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus Covid19 di Jawa dan Bali mengalami penurunan setelah 13 hari menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.

Namun, Budi mengatakan, penurunan kasus Covid19 di Jawa-Bali diiringi dengan kenaikan kasus Covid19 di luar Jawa.

“Ada penurunan di Jawa itu juga dibarengi dengan kenaikan di luar Jawa, karena di Jawa kena duluan, naik sangat tinggi kita lakukan intervensi, kemudian menurun, luar Jawa sekarang yang naik,” tutup Budi. (***)

Baca juga: Ini Metode RS Hasan Sadikin Tekan Angka Pasien Covid19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post