Beranda KuTu Difasilitasi AJI Palu, ‘Mengintip’ Dapur Redaksi Tempo (I)

Difasilitasi AJI Palu, ‘Mengintip’ Dapur Redaksi Tempo (I)

Difasilitasi AJI Palu, mewakili gemasulawesi saya menjadi salah satu dari tiga puluh jurnalis yang mendapatkan kesempatan ‘mengintip’ dapur redaksi Tempo.

Workshop dan fellowship dilaksanakan bekerja sama dengan yayasan tempo institute, tentu ini adalah kesempatan bagi saya yang masih perlu banyak belajar.

Difasilitasi AJI Palu, Trainer yang membawakan materi saat itu adalah, Mardiyah Chamim, Ahmad Arif dan Amantha Perera asal Srilanka. Mentornya ada dua, Ika Ningtyas Unggraini dan Neni Muhidin (belum hadir sih saat itu,red).

Dalam workshop itu awalnya saya menerima materi yang tidak banyak berbeda dengan pengetahuan umum tentang jurnalis investigasi. Kebetulan selama jadi wartawan saya memang memiliki ketertarikan khusus pada jurnal investigasi.

Semakin lama materi yang dipaparkan semakin dalam, disitu saya melihat level mereka sangat jauh dalam hal profesionalisme kerja dibanding kita.

Bagi media sekelas Tempo, untuk menerbitkan satu berita ada beberapa proses penting harus dilalui.

Wartawan harus mengusulkan proposal pemberitaannya. Proposal itu, nantinya akan dipresentasikan didepan Redaktur pelaksananya. Dalam presentase proposal, wartawan harus mampu meyakinkan Redaktur pelaksana untuk menerbitkan tulisannya.

Poin itu berdasarkan pengalaman saya, sangat jarang kita lakukan. Umumnya yang saya dapatkan adalah perintah melisting berita dan tidak perlu mempresentasekannya di depan Redaktur pelaksana.

Alhasil, berita apapun yang dibawa pulang oleh wartawan selalu terbit, walaupun berita yang disetor melenceng dari listing beritanya sendiri.

Berikutnya, hal paling sering terjadi dalam lingkup media yang pernah saya lakoni, adalah wartawan malas menjemput bola.

Manajemen isunya, cenderung selalu harus diarahkan oleh Redaktur pelaksana baru si wartawan bisa melihat isu menarik.

Selain kedua persoalan itu, kelemahan paling fatal berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai wartawan di Sulawesi tengah adalah, wartawan jarang menguji kebenaran data atau informasi yang didapatkannya.

Tentu poin penting ini bagi media sekelas Tempo menjadi hal wajib, kenapa harus dilakukan uji kebenaran data? Ternyata jawabannya sederhana, itu dimaksudkan agar kita tidak terjebak dalam informasi ‘Hoax’ atau melanggar kode etik jurnalis.

Seperti itulah pemahaman saya di hari pertama mengikuti workshop. Kebetulan saat itu diperintahkan membuat kelompok dan kelompok saya, dimentori oleh Ika Ningtyas Unggraini.

Mentor saya, orangnya tenang dalam mengarahkan konsep berita dengan selalu menekankan kata ‘dipertajam’. Ya, memang style Tempo selalu seperti itu. Tidak suka basa basi, langsung to the point saja dalam menulis.

Hal itu penting, agar tidak bias isu yang akan kita tekankan dalam penulisan sebuah karya tulis, khususnya dalam hal pemberitaan.

Dalam perjalanan diskusi yang difasilitasi oleh AJI itu, mentor selalu mengarahkan pada kata bermakna ‘ tanda tanya’, padahal umumnya kita kadang mengabaikan itu.

Kencenderungan saya sebagai wartawan adalah menjudge bukan bertanya, itu tentu pola yang sangat salah.

Berbekal kata tanya itulah sebuah proposal harusnya dimulai. Setelah itu, kita menyusun informasi awal dari berbagai sumber.

Selanjutnya, kita harus mengumpulkan data pendukung untuk menguatkan semua asumsi dari keseluruhan informasi yang telah kita susun sebelumnya.

Sederhana sekali kelihatannya pola investigasi seperti itu. Tetapi tentu semua wartawan investigasi akan mengetahui sangatlah sulit dalam prakteknya untuk memenuhi semua unsur itu dalam waktu singkat.

Mungkin sampai disitu saja dahulu, pembuka tulisan saya. Tentang kesan mengikuti workshop yang difasilitasi oleh Aji Palu bekerja sama dengan yayasan Tempo.

Besok, disambung lagi dengan tulisan berikutnya tentu tidak kalah menariknya, karena materinya dibawakan oleh orang yang berbeda dan membahas isu Akuntabilitas Penanganan Bencana.

Laporan: Muhammad Irfan Mursalim

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Must Read

Meraih Poin 300 Di Motorland Aragon, Marquez Mendekati Gelar Juara Keenam MotoGP

Parimo, gemasulawesi.com- Meraih poin 300 di sirkuit Motorland Aragon, Marc Marquez mendekati gelar juara keenam MotoGP. Pasca kemenangan dominan di MotoGP Aragon 2019, The Baby...

Gempa Bumi Magnitudo 6,4 Maluku Tenggara Barat, Tidak Berpotensi Tsunami

Parimo, gemasulawesi.com- Gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,4 mengguncang Kabupaten Maluku Tenggara Barat, BMKG menyebutkan gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. BMKG mencatat pada Minggu, 22 September...

Mutiara Hitam Seri Pendekar Pulau Es

Mutiara Hitam adalah lanjutan dari seri Cinta bernoda darah. Mutiara hitam akan menceritakan bagaimana kisah akhir dari pendekar Suling Emas. Sinopsis Mutiara hitam: Jalan kecil itu...

Tepat Pilih Ban, Marquez Raih Pole Ke Sembilan MotoGP 2019

Parimo, gemasulawesi.com- Strategi pemilihan ban yang tepat pada kualifikasi MotoGP Aragon, membuat Marc Marquez meraih pole ke sembilan musim 2019. Pembuktikan strategi The Baby Alien...

The Reds Lebih Diunggulkan Jelang Laga Chelsea vs Liverpool

Parimo, gemasulawesi.com- Jelang laga pekan keenam Liga Inggris Chelsea vs Liverpool, The Reds selaku tim tamu diunggulkan mendulang tiga poin. Laga Premier League Chelsea vs...