Dewan Pers Mengutuk Kekerasan Terhadap Jurnalis

193
Dewan Pers Mengutuk kekerasan Pers Terhadap Jurnalis
Ketua Dewan Pers, Muh Nuh (Foto: Ist)

Parimo, gemasulawesi.com Dewan pers mengutuk kekerasan pers terhadap jurnalis yang bertugas terkhusus pada peliputan aksi demo mahasiswa penolakan sejumlah RUU bermasalah.

Dewan Pers menerima sejumlah laporan dari berbagai daerah terkait kekerasan terhadap rekan-rekan pewarta.

“Intinya, Dewan Pers mengutuk keras terhadap kekerasan pers yang diterima oleh kawan-kawan jurnalis,” tegas Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh kepada wartawan, dikutip dari Detiknews, Kamis, 26 September 2019.

Dewan Pers mengajak semua pihak menghormati kerja jurnalistik yang dilakukan wartawan. Dan menghargai kebebasan pers sebagaimana amanat UU Pers. Ia juga meminta semua pihak secara bersama memberikan perlindungan kepada jurnalis.

Sebelumnya diberitakan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat ada sepuluh jurnalis yang mengalami kekerasan oleh aparat keamanan. AJI juga mengecam kekerasan terhadap jurnalis.

“Rinciannya, di Jakarta terdapat empat korban jurnalis, Makassar tiga korban, sehari sebelumnya di Jayapura ada tiga korban,” ungkap Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia Joni Aswira saat jumpa pers di LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu, 25 September 2019.

Yang terbaru Ketua Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Kota Palu, Muhammad Iqbal mengecam aksi dari oknum polisi asal Polres Palu yang merampas handycam wartawan TVRI dan menghapus semua rekaman gambar terkait demonstrasi.

Atas ulahnya, oknum polisi yang disebut bertugas di Polres Palu akan dilaporkan ke Propam Polda Sulteng untuk mendapatkan sanksi atas tindakannya.

“Saat ini kami sedang berkumpul untuk mendampingi korban jurnalis untuk melapor ke Propam Polda Sulteng,” tegasnya kepada gemasulawesi.com, Rabu, 25 September 2019.

Ulah oknum polisi sudah sangat jelas melanggar UU Pers nomor 40 tahun 99, menghalang-halangi tugas pokok dan fungsi jurnalis dalam mencari informasi.

Sementara itu, pihak Polres Palu sendiri belum bisa dikonfirmasi dan hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dugaan perampasan handycam milik jurnalis TVRI.

Arogansi yang ditunjukkan oknum polisi terhadap kerja kerja jurnalistik tidak hanya terjadi di Kota Palu Provinsi Sulteng, tercatat beberapa kejadian tidak mengenakkan juga menimpa pewarta saat meliput aksi demo pada sejumlah daerah.

“Secepatnya kami akan merilis pernyataan sikap atas tindakan arogan dari oknum polisi yang merampas handycam wartawan TVRI saat meliput aksi,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, sejumlah mahasiswa Untad Provinsi Sulteng menjadi korban kekerasan oknum kepolisian saat melakukan aksi.

Bentrokan terjadi akibat perwakilan mahasiswa tidak diijinkan saat ingin memasuki kantor DPRD.

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.