Banner Disperindag 2021 (1365x260)

Cucu Dijadikan Jaminan Utang, Kakek Lapor Rentenir ke Polisi

Cucu Dijadikan Jaminan Utang, Kakek Lapor Rentenir ke Polisi
Foto: Illustrasi kekerasan terhadap anak.

Gemasulawesi– Seorang kakek di Bogor bernama Yanto lapor rentenir bernama Nurhalimah ke polisi karena cucu dijadikan jaminan utang piutangnya.   

“Cucunya berusia lima tahun berinisial MR dibawa pergi oleh seseorang bernama Nurhalimah lantaran utang dimiliki kakek dan nenek MR,” ungkap Kapolresta Bogor Kota Kombes Susatyo Purnomo Condro di Bogor, Selasa 10 Agustus 2021.

Dia menerangkan, kasus cucu dijadikan jaminan utang kakek di Bogor berkaitan utang Yanto dan Mardiyah kepada Nurhalimah senilai Rp15,4 juta. Kemudian sang rentenir, mengambil cucu mereka sebagai jaminan utang itu.

Baca juga: Satu Keluarga Ditemukan Tewas di Kebun Sawit Sintang

“Seolah-olah bapak Yanto ini berpindah-pindah rumah, sehingga sebagai jaminan yaitu adalah cucunya, pak Yanto dan ibu Mardiyah ini di dalam tekanan untuk pasrah menerima cucunya itu diambil Nurhalimah,” ujarnya.

Selama berada di bawah penguasaan Nurhalimah, kata Susatyo, Yanto dan Mardiyah pun tidak bisa bertemu dan berkomunikasi dengan cucunya. Sehingga, peristiwa itupun dilaporkan ke pihak kepolisian.

“Kami fokus terhadap penanganan untuk pengambilalihan anak atau belum cukup umur secara melawan hukum,” ucapnya.

Baca juga: Utang Indonesia Bertambah Dalam Kurun Waktu Dua Tahun

Cucu kakek dijemput di rumahnya

Peristiwa cucu dijadikan jaminan utang itu terjadi pada 16 Juli 2021. Saat itu Nurhalimah datang ke kediaman Yanto, dan menanyakan cucunya MR untuk dibawa bersamanya.

“Sejak saat itu pak Yanto dan ibu Mardiyah ini tidak bisa menemui cucunya kurang lebih sekitar 20 hari dari sejak tanggal 16 Juli sampai dengan 6 Agustus,” terangnya.

Yanto selaku kakek dari MR lantas melaporkan kejadian cucu dijadikan jaminan utang itu ke Polresta Bogor Kota. Laporan itu lantas ditindaklanjuti Unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA).

Hasilnya, kata dia, MR berhasil ditemukan dan langsung diserahkan kembali kepada pihak keluarga. Setelahnya, kepolisian berkoordinasi dengan pihak P2TPA2 untuk memeriksa sekaligus memulihkan kondisi psikologi dari MR.

Susatyo berujar pihaknya juga memeriksa sebanyak lima orang saksi untuk menyelidiki kasus ini, termasuk pemeriksaan terhadap Nurhalimah.

“Dan Nurhalimah kami tetapkan sebagai tersangka dengan persangkaan Pasal 88 UU perlindungan anak dan atau Pasal 330 KUHP, yang pada intinya adalah mengambil alih penguasaan atas anak atau belum cukup umur secara melawan hukum,” tutupnya. (***)

Baca juga: Proyek Pavin SIKIM Avulua Disebut Menjadi Temuan BPK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post