2Banner GIF 2021

Covid19 Melandai Bukan Berarti Pesta Dimulai

Covid19 Melandai Bukan Berarti Pesta Dimulai
Foto: Illustrasi. Covid19 Melandai Bukan Berarti Pesta Dimulai

Gemasulawesi- Wabah Covid19 menunjukkan kecenderungan melandai sepekan belakangan ini.

Pemerintah juga telah banyak membuat kebijakan baru dalam penanganannya. Mulai dari penurunan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sampai kebijakan membuka kegiatan eknomi.

Situasi wabah covid19 sudah melandai seperti ini tentu melegakan warga masyarakat. Mereka dari wilayah Sabang sampai Merauke dan dari pulau Nias sampai pulau Rote menyambutnya dengan suka cita.

Baca juga: Parimo Kampanye Gerakan “Ayo Pakai Masker dan Cuci Tangan”

Ini menandakan bahwa kehidupan normal segera dimulai, meskipun warga juga mendapat pesan dari Presiden Joko Widodo bahwa pandemi Covid19 akan berubah menjadi endemi. Artinya, virus Corona tidak mungkin hilang seratus persen.

“Kita harus siap hidup berdampingan dengan virus ini,” ujar Presiden berkali-kali dalam berbagai kesempatan.

Dan, warga masyarakat harus siap dengan kenyataan untuk bisa hidup berdampingan dengan Corona sampai waktu yang tidak bisa diketahui.

Tentu hidup berdampingan dengan Corona berarti harus mengelola hidup dengan tatanan baru. Warga tidak bisa lagi hidup seenaknya saja.

Warga harus bisa mengelola hidupnya dengan protokol keseharan, utamanya memakai masker ketika harus beraktivitas dan berinteraksi.

Bagi warga Sulawesi Tengah, melandainya wabah Corona ini tentu bukan harus disambut dengan suka cita berlebihan, apalagi sampai menganggap situasi sudah seperti hari-hari normal sebelum pandemi.

Warga dan kita semua meskipun sudah mulai bisa beraktivitas untuk memutar roda ekonomi yang selama pandemi lumpuh, tetapi harus senantiasa menjaga protokol kesehatan, utamanya memakai masker.

Masker adalah alat pelindung paling efektif dan efisien bagi manusia agar tidak tertular virus secara langsung ke mulut dan hidung.

Virus Corona yang menular masuk ke hidup dan mulut akan tercegah oleh masker bila manusia mengenakannya.

Dan, yang lebih penting lagi adalah pemakaian masker juga harus benar. Masker dikenakan sewaktu seseorang berbiacara dengan orang lain.

Bukannya sewaktu berbicara maskernya malah diturunkan ke dagu dengan alasan biar nyaman. Ini jelas tindakan keliru.

Banyak kasus penularan Covid19 justru terjadi ketika sekelompok orang berkumpul dalam sebuah pertemuan atau makan bersama.

Pada waktu berkumpul dan makan bersama dengan orang-orang beragam asal-usul aktivitasnya ini, virus paling cepat menular, karena mulut dan hidung semua orang dalam keadaan terbuka.

Beberapa negara yang mengalami gelombang Covid19 berkali-kali pada umumnya dipicu warga masyarakatnya yang abai memakai masker sewaktu berkumpul.

Warga yang suka berkumpul dan makan minum bersama di restoran, kafe, klub malam, atau sebuah pesta abai protokol kesehatan. Situasi yang ramai manusia seperti inilah, vius Corona mudah sekali menular.

Di sini, warga masyarakat mesti memahami bahwa setiap aktivitas dan interaksi dengan banyak orang tanpa bermasker sangat berpotensi menularkan atau tertular virus.

Berkegiatan dan berinteraksi sebagai upaya memutar roda ekonomi bukan berarti seperti orang berpesat yang dapat menimbulkan klaster penularan virus, sehingga bisa membikin gelombang penularan baru.

Virus adalah benda yang tidak tampak, sehingga manusia sebagai target dan pembawanya harus lebih cerdas dalam mengelolanya.

Jangan biarkan virus menjangkiti manusia karena kita lalai atau abai mengendalikan diri dengan keadaan sekitarnya. Apalagi situasi covid19 saat terlihat sudah melandai.

Peran pemangku kepentingan seperti pemerintah, satuan tugas, pemuka agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat, yang bisa menjadi panutan warga sangat dibutuhkan.

Keteladanan mereka bisa digunakan untuk mengedukasi warga masyarakat bahwa sekarang ini butuh tata kelola baru dalam menjalani hidup sehari-hari.

Tata kelola baru itu adalah menjalankan protokol kesehatan, utamanya memakai masker. Baik itu sewaktu pergi ke pasar, ke perkumpulan, apalagi pesta atau hajatan yang disertai makan minum bersama.

Masker adalah pelindung utama kita agar tidak tertular atau menularkan virus yang telah memorakporandakan kehidupan selama ini. (****)

Baca juga: Kampanye Lawan Covid-19, Polda Sulteng Bagikan 400 Ribu Masker

Penulis: Krista Riyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post