Kasus Corona Sulteng Meningkat Drastis, Pandemi Gelombang Kedua?

waktu baca 6 menit
(Foto: Kurva Historis Kasus Terkonfirmasi Positif Virus Corona di Sulteng, Minggu 20 September 2020/DinkesFoto)

Berita sulawesi tengah, gemasulawesi– Meningkat drastis, 23 kasus baru terkonfirmasi positif virus corona di Provinsi Sulteng mengkhawatirkan, apakah itu menunjukkan pandemi gelombang kedua?

Walaupun sempat jumlah pasien terkonfirmasi positif corona Sulteng sudah mendekati ‘nol kasus’, akhirnya Provinsi Sulteng kembali mengalami lonjakan tinggi.

Warga di Provinsi Sulteng sudah semestinya waspada dengan wabah virus yang hingga saat ini vaksinnya belum beredar di Indonesia.

Pusdatina Covid-19 Pemerintah provinsi (Pemprov) Sulteng kembali merilis perkembangan terbaru penanganan pada Minggu 20 September 2020.

“Konfirmasi positif virus corona Sulteng meningkat drastis, hari ini bertambah 23. Sehingga, saat ini berjumlah 320 kasus,” ungkap Jubir Pusdatina Sulteng, Haris Kariming.

Detailnya, 23 pasien positif virus corona yang baru itu masing-masing tersebar di beberapa daerah. Yaitu, 10 di Kabupaten Donggala, delapan di Morowali dan lima orang di Kota Palu.

Saat ini kata Haris, pasien virus corona yang masih dalam perawatan sebanyak 75 orang. Masing-masing 25 orang di Kota Palu, lima di Banggai, tiga di Tolitoli, 22 di Donggala, 10 di Morowali.

Selanjutnya dua di Kabupaten Poso, satu di Sigi, dan satu di Banggai Laut, dua orang di Kabupaten Tojo Una-una.

Empat pasien lainnya yang dirawat di RSUD Madani Palu berasal dari daerah lainnya yakni satu dari Sulawesi Barat, dua Gorontalo, dan satu di Jawa Timur.

Haris Kariming menyebut, sebanyak 237 sampel swab saat ini dalam pemeriksaan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng di Kota Palu.

Ia berharap kasus virus corona di Sulteng terus berkurang. Dan seluruh pasien dapat sembuh seiring dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan Pemda di tingkat provinsi hingga kabupaten untuk memutus mata rantai penularan dan penyebaran virus itu.

Ia mengimbau, agar warga mendukung tim pengawas Dinas Kesehatan kabupaten dan kota di Sulteng yang melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien positif virus corona.

“Langkah itu sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran dan penularan virus corona di Sulteng,” tuturnya.

Sementara itu, pasien yang terkonfirmasi positif virus corona di Sulteng, khususnya Kota Palu mengalami peningkatan signifikan.

Akibatnya, ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madani Kota Palu Sulteng kelebihan kapasitas atau telah melebihi batas maksimal pasien untuk dirawat, akibat kasus corona meningkat drastis.

Direktur RSUD Madani, Dr. Nirwansyah mengatakan, RSUD Madani kembali ketambahan dua pasien. Sehingga berdasarkan hasil swab, totalnya sudah 13 pasien positif virus corona.

Ia mengatakan, seluruh pasien telah diisolasi di zona merah. Namun, pihaknya masih menunggu hasil pasien lainnya.

Gelombang Kedua Pandemi, Ini Penjelasan Akademisi

Jumlah kasus positif virus corona di Provinsi Sulteng meningkat kemudian mengalami penurunan. Kurva naik turun itu bisa dikelompokkan menjadi satu gelombang. Namun, tidak ada definisi formal untuk istilah ini.

Sejumlah akademisi mencoba mendefinisikannya. Mike Tildesley, akademisi di University of Warwick berkata, semua orang bisa mendefinisikan sendiri terminologi gelombang, ini bukan sesuatu yang sangat ilmiah.

Gelombang kedua pandemi menurut sejumlah kalangan yaitu peningkatan kasus positif virus corona. Namun kasus baru pasien terkonfirmasi virus itu kerap fluktuatif.

Contohnya, gelombang kedua pandemi tak bisa disebut muncul di Kota Beijing yang kembali menghadapi wabah usai 50 hari tanpa kasus positif.

Di sisi lain, para ilmuwan berdebat apakah kriteria gelombang kedua tadi cocok dengan situasi yang tengah berlangsung di Iran. Tren ini terjadi di beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Untuk menyebut sebuah gelombang telah berakhir, penyebaran virus corona harus dikontrol dan jumlah kasusnya harus benar-benar turun.

Sementara itu, gelombang kedua bisa dikatakan muncul ketika jumlah kasus positif secara terus-menerus meningkat.

Namun, situasi itu tidak berlaku untuk Selandia Baru yang mengumumkan kasus positif pertama mereka setelah ’24 hari tanpa virus corona’.

Pemicu Gelombang Kedua, Apa Itu?

Mungkin jawabannya adalah sudah tidak ketatnya kontrol pelaksanaan protokol kesehatan, atau tidak adanya pembatasan sosial secara menyeluruh.

Walaupun sempat dilaksanakan, pada akhirnya pembatasan itu telah dilonggarkan.

Di seluruh dunia, akibat pembatasan menimbulkan ‘turbulensi’. Misalnya, perekonomian di tengah warga tidak berjalan normal dan anak-anak hanya belajar daring karena tak bisa menjalani pendidikan secara tatap muka di sekolah.

Namun, mesti diakui pembatasan sosial di tengah-tengah warga, ampuh mengontrol penyebaran virus corona.

Pekerjaan rumah Pemerintah daerah (Pemda) di Provinsi Sulteng saat ini adalah mengontrol wabah virus corona sekaligus minimalkan dampak kehidupan ekonomi warga sehari-hari.

Tim gugus tugas penanganan virus corona di setiap daerah kerap kali melakukan tracking hingga pengetatan protokol kesehatan di kehidupan new normal sebagai cara terkini kontrol wabah.

Jurus Jitu Tekan Pandemi Corona

Presiden Joko Widodo mengatakan jurus jitu untuk menekan angka penularan covid-19 dengan intervensi berbasis lokal. Menurut Presiden, untuk memutus rantai kasus positif yakni menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai wilayah tingkat yang paling kecil.

Ia mengatakan, PSBB tingkat desa, PSBB tingkat kampung saya kira melokalisir virus corona di dalam skala kecil ini lebih memudahkan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di lapangan.

Sementara itu, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, Pemerintah harus menjalankan program isolasi atau karantina mandiri kepada suspek virus corona.

Miko menyampaikan tiga saran agar pemerintah mampu menekan laju penularan virus corona atau virus corona.

Pertama, menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di zona merah virus corona.

Jadi kata dia, yang pasti di provinsi atau kabupaten yang tinggi kasus positif coronanya, harus berupaya menjalankan program penanganannya secara serius.

Kedua, pemerintah harus menjalankan program isolasi atau karantina mandiri kepada suspek virus corona.

Terakhir, terus memperbanyak pemeriksaan virus corona di daerah masing-masing.

Seperti itulah langkah untuk mengisolasi kasus. Jika tidak dilakukan, kemungkinan akan terus bertambah terus jumlah kasus baru positif virus corona.

Inpres Disiplin Penegakan Protokol Kesehatan

Guna menekan pandemi virus corona, Polda Sulteng lakukan penyemprotan disinfektan di Kota Palu. Inpres itu juga memerintahkan agar TNI dan Polri memberikan bantuan dan dukungan kepada Pemerintah daerah (Pemda).

“Kegiatan penyemprotan disinfektan di Kota Palu merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) nomor 6 tahun 2020. Tentang peningkatan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan, dalam pencegahan dan pengendalian virus corona,” ungkap Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Didik Supranoto, di Kota Palu.

Bantuan itu lanjut dia, dalam rangka pencegahan dan pengendalian virus corona. Utamanya, pengawasan peningkatan disiplin protokol kesehatan terhadap warga.

“Personel yang dikerahkan untuk lakukan penyemprotan yaitu sebanyak 100 personel Polri dan satu pleton TNI,” urainya.

Polda Sulteng menerjunkan tiga unit mobil Armoured Water Cannon (AWC) ke lapangan untuk lakukan penyemprotan.

Personil yang melakukan penyemprotan itu dilepas langsung Wakapolda Sulteng Brigjen Polisi Hery Santoso.

Selain melaksanakan penyemprotan disinfektan, petugas juga memberikan imbauan kepada warga untuk tetap disiplin tentang protokol kesehatan.

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.