Cinta Bernoda Darah

0
118
Cinta Bernoda Darah
ilustrasi
Cinta bernoda darah adalah lanjutan dari cersil sebelumnya berjudul Suling Emas. Cerita ini juga lanjutan dari seri Bu Kek Siansu yang menjadi seri pertama dan cikal bakal dari serial pendekar pulau es. Cinta bernoda darah adalah kisah lanjutan dari Suling Emas.
Berikut Sinopsisnya:
Puncak Gunung Thai-san yang menjulang tinggi di angkasa tertutup awan putih tebal yang bergumpal-gumpal mengelilingi puncak. Hampir selalu puncak Thai-san tertutup awan, kecuali pada musim panas, sekali waktu ada kalanya puncak Thai-san yang meruncing itu tampak dari bawah. Keadaan inilah yang menimbulkan dongeng di kalangan penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung, bahwa puncak Thai-san merupakan anak tangga menuju ke sorga! Dan bahwa hanya para dewa dan manusia setengah dewa saja yang dapat mendatangi puncak Thai-san. Dongeng atau kepercayaan tentang hal kedua ini tidaklah terlalu berlebihan kalau diingat bahwa penduduk pegunungan amatlah tebal kepercayaannya akan para dewa yang menguasai seluruh permukaan bumi. Harus diingat pula akan keadaan puncak itu sendiri. Terlalu tinggi, terlalu sukar jalan mendaki puncak, terlalu dingin sehingga manusia biasa tak mungkin akan dapat mendaki puncak. Terlalu banyak bahayanya. Binatang buas, jalan yang amat licin, jurang-jurang yang curam, daerah-daerah yang mengeluarkan gas, dan hawa dingin yang membekukan darah dalam badan. Memang tak mungkin bagi manusia-manusia biasa, namun mungkin saja bagi manusia-manusia luar biasa, yaitu manusia-manusia yang memiliki kepandaian tinggi dan memiliki tubuh terlatih, yang kuat menghadapi semua tekanan, kuat pula mengatasi semua rintangan. Betapa pun juga, puncak Thai-san tetap jarang sekali dikunjungi orang pandai, karena selain perjalanan itu amat berbahaya, juga tanpa keperluan yang amat penting, apakah yang dicari di tempat sunyi itu?
Pagi hari itu amat cerah. Awan putih yang berkelompok di sekitar puncak tampak berkilauan seperti perak digosok, matahari membobol benteng halimun lembab, mencairkan segala kebekuan dan menghias ujung-ujung daun dengan mutiara-mutiara air embun berkilauan seperti hiasan anting-anting pada telinga dara jelita. Burung-burung berkicau menyambut hari yang amat indah itu, dan segala yang berada di permukaan
bumi seakan bergembira ria. Apakah gerangan yang menyebabkan suasana gembira dan indah ini?
Tidak mengherankan. Musim semi tiba, pagi hari itu adalah permulaan dari tahun yang baru. Musim yang
tepat sekali untuk memulai segala sesuatu dengan awalan-awalan yang sama sekali baru! Buang yang
lama-lama dan yang buruk-buruk, mulai dengan yang baru-baru dan yang indah-indah. Setidaknya,
demikianlah harapan dan renungan setiap insan pada setiap tahun baru.
Semenjak pagi hari para penduduk di sekitar kaki dan lereng gunung sudah sibuk berpesta, bergembira ria
merayakan hari tahun baru. Pakaian-pakaian simpanan dikeluarkan dari peti pakaian, ‘setahun sekali’
menghias tubuh, yang muda menghormat yang tua, yang muda minta maaf, yang tua memaafkan. Saling
memaafkan, gembira tertawa, hilang dengki, lenyap benci. Alangkah indahnya dunia, alangkah nikmatnya
hidup.

Sumber: https://dunia-kangouw.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan