Penting, Cegah Stunting di Parigi Moutong

waktu baca 3 menit
Lokakarya Pencegahan Stunting- Aksi 1 Analisis situasi program pencegahan stunting di Parigi Moutong. Kegiatan dilakukan di aula Kantor Bappelitbangda Parimo, Kamis 12 Maret 2020. GemasulawesiFoto/Rafii.

Parigi moutong, gemasulawesi.com Mengapa anak mengalami stunting? Apa dampaknya terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia di Parigi Moutong (Parimo)? Inilah tantangan daerah Parigi Moutong untuk cegah stunting.

Sebelum membahas solusi cegah stunting di Parigi Moutong, terlebih dahulu mesti mengenal arti stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak Bayi lima tahun (Balita). Akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 100 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, anak-anak memiliki potensi pertumbuhan yang sama sampai usia lima tahun. Terlepas di mana mereka dilahirkan. Anak dengan pertumbuhan normal pada usia lima tahun, memilki tinggi 110 cm. Pertumbuhan dengan ukuran 100 cm masuk kategori stunting pendek. Sedangkan stunting berat atau sangat pendek, ukuran tingginya mencapai 96 cm.

“Stunting itu ditandai dengan gagal tumbuh yaitu berat lahir rendah, kecil, pendek dan kurus. Memiliki hambatan perkembangan kognitif dan motorik. Gangguan metabolik pada saat dewasa. Resiko penyakit seperti diabetes, obesitas, stroke dan penyakit jantung,” ungkap Kepala Bappelitbangda Parigi Moutong, saat kegiatan Aksi I Analisis Situasi Stunting Parigi Moutong, di Aula Kantor Bappelitbangda, Kamis 13 Maret 2020.

Dengan berbagai gangguan dan hambatan itu, berpengaruh pada pencapaian pembangunan. Sangat sulit meraih target pembangunan jika manusia yang menggerakkan pembangunan tidak memiliki kualitas otak dan fisik baik.

Untuk mencegah stunting, Bappelitbangda Parigi Moutong merumuskan delapan aksi pada tahun 2020. Tujuan aksi itu adalah meningkatnya integrasi intervensi gizi pada rumah tangga 1000 HPK.

Selanjutnya, uraian delapan aksi itu antara lain aksi pertama analisis situasi, cakupan dan keterpaduan intervensi gizi pada rumah tangga 1000 HPK. Analisis situasi adalah proses mengidentifikasi sebaran stunting, cakupan intervensi, situasi ketersediaan program dan praktik manajemen layanan saat ini.

Tujuannya, untuk memahami permasalahan rendahnya integrasi intervensi gizi prioritas pada sasaran rumah tangga 1000 HPK.

Output dari aksi pertama adalah rekomendasi kegiatan untuk meningkatkan integrasi intervensi gizi prioritas bagi rumah tangga 1000 HPK.

Rekomendasinya meliputi daftar desa atau kelurahan yang memerlukan prioritas penanganan. Program kegiatan penyediaan intervensi layanan yang memerlukan perbaikan manajemen alokasi anggaran, baik melalui realokasi program.

Berikutnya, kegiatan perbaikan penyampaian layanan untuk memastikan rumah tangga 1000 HPKmengakses layanan. Perbaikan manajemen data stunting dan cakupan intervensi. Penguatan koordinasi, baik itu antar OPD untuk sinkronisasi program maupun antara kabupaten dan desa dengan dukungan kecamatan.

Dalam upaya cegah stunting perlu peran OPD lainnya. Peran dalam aksi pertama ini adalah menyediakan data yang diperlukan dalam analisis situasi. Menganalisa penyebab kesenjangan cakupan layanan, baik pada skala kabupaten maupun pada desa lokus.

Peran lainnya yaitu analisa ketersediaan program tahun berjalan untuk mengatasi penyebab kesenjangan cakupan layanan. Analisa kendala penyampaian layanan. Hingga, identifikasi kesenjangan data ketersediaan, kualitas dan aksesibiltas data.

Aksi kedua rencana kegiatan, yaitu rekomendasi Lokus dan kegiatan prioritas. Aksi ketiga rembuk stunting, berupa rancangan rencana kegiatan, komitmen dan kesepakatan rencana kegiatan. Aksi keempat terbitnya Perbup/Perwali tentang peran desa.

Aksi kelima pembinaan Kader Pembangunan Manusia (KPM). Aksi keenam Sistem Manajemen Data.

Khusus Sistem Manajemen Data, Parigi Moutong menerapkan aplikasi guna merancang manajemen data terkait stunting, bernama SIMADING (Sistem Manajemen Data Stunting).

Besar harapan pada aplikasi itu, untuk membaca masalah stunting di desa dan cara intervensinya. Jadwal pun telah disusun untuk melaporkan penggunaan dana DID stunting. Hal itu akan langsung masuk di aplikasi keuangan.

Kemudian, aksi ketujuh yaitu pengukuran dan publikasi stunting. Dan terakhir aksi kedelapan berupa reviu kinerja tahunan program stunting.

Tentunya, kedelapan aksi itu tidak akan mampu mendulang kesuksesan, jika seluruh pihak tidak saling membantu mewujudkan Parigi Moutong bebas stunting.

Baca juga: DPUPRP Fokus Tangani Pelanggan dan Jaringan SPAM Parigi Moutong

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.