Bupati Sigi Arahkan OPD Sinergikan Program Penanganan Stunting Anak

waktu baca 2 menit
(Foto Istimewa)

Sigi, gemasulawesi – Bupati Sigi, Sulawesi Tengah, Mohamad Irwan mengarahkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar coba sinergikan program pembangunan kualitas hidup masyarakat untuk penanganan stunting atau kekerdilan.

Bupati Sigi Mohamad Irwan mengatakan, penanganan kasus stunting merupakan salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Sigi. Maka dari itu perlu terobosan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang diawali dengan sinergitas program penanganan stunting.

Penanggulangan stunting, kata dia, harus dilakukan dengan konsep pentahelix yang melibatkan semua elemen dan komponen secara bersama-sama.

“Diperlukan komitmen lintas sektor dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Sigi dalam penanganan stunting. Agar selanjutnya penanganan stunting dapat menjadi prioritas program nasional,” jelasnya.

Baca: Baik untuk Ibu Hamil dan Bayi, Ini Beberapa Manfaat Omega-3

Menurutnya, angka stunting yang terjadi di Kabupaten Sigi untuk bayi usia 0-23 bulan adalah 20,2% pada 2019, turun menjadi 16,6% pada 2020 dan turun kembali menjadi 14,4% pada 2021.

Pemerintah Kabupaten Sigi telah menetapkan 25 desa sebagai Sentra pengelolaan air terjun di sembilan kecamatan antara lain Sigi Biromaru, Nokilalaki, Palolo, Dolo Selatan, Marawola Barat, Kulawi, Gumbasa, Dolo Barat dan Dolo. Dinas Kesehatan Sigi mengatakan stunting dapat menghambat perkembangan anak dalam hal ukuran fisik dan juga perkembangan intelektualitas seorang anak.

“Dampak stunting pada anak bisa berpengaruh tumbuh kembang fisik anak, dan juga gangguan intelektualitas anak selain itu resiko terkena penyakit kronisdan juga beberapa penyakit tidak menular”, demikian kata Adheleide Krisnawati Kabid Upaya Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Sigi, Sabtu 7 Mei 2022.

Adheleide menjelaskan bahwa stunting adalah merupakan gangguan kondisi tumbuh kembang anak di bawah usia lima tahun, karena kurangnya asupan gizi yang cukup saat masih dalam kandungan.

“Hal ini dapat juga diperhatikan dengan kondisi tinggi badan anak yang rendah tidak sesuai dengan umurnya,” Ucap Krisnawati.

Stunting, katanya, dapat dikenali atau dikenali oleh orang tua dengan mengenali ciri-cirinya, antara lain tinggi badan anak yang kurang dari usianya, jika mengalami gangguan perkembangan fisik. Dengan demikian, gangguan perkembangan intelektual yaitu kecerdasan anak berkurang.

Kondisi ini, kata dia, dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain kurangnya asupan gizi, infeksi berulang dan kondisi kesehatan lingkungan seperti kurangnya air minum bersih dan sanitasi yang buruk. (*)

Baca: AHY Kunjungi Airlangga Bahas Koalisi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.