BPS Catat Lima Persen Penduduk Produktif Indonesia Menganggur

0
103
BPS Catat Lima Persen Penduduk Produktif Indonesia Menganggur
Illustrasi Pengangguran

Parimo, gemasulawesi.com Badan Pusat Statistik (BPS) tengah tahun ini, mencatat terdapat 5,01 persen penduduk produktif Indonesia yang menganggur.

Sedangkan dalam beberapa waktu mendatang, Indonesia akan menghadapi periode krusial bonus demografi. Jumlah generasi milenial yang berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia penduduk produktif Indonesia (14-64 tahun).

“Generasi Muda Indonesia akan menghadapi persimpangan yang belum pernah ada sebelumnya,” ungkap Kepala Generasi Muda Indonesia, Muhammad Nur Rizal dikutip dari VIVA, Jumat, 11 Oktober 2019.

Dalam data BPS, Indonesia tertinggal dari Laos dan Kamboja, yang secara berurutan mencatatkan 0,60 persen dan 0,10 persen pengangguran. Artinya, ini memang menjadi angka terendah dalam sejarah Indonesia, tetapi tetap menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara.

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengatasi tantangan zaman yang terus berubah, khususnya terkait polemik bonus demografi.

“Ketika proporsi anak muda Indonesia yang besar itu ternyata tidak cukup produktif atau bermental lemah, maka jumlah besar itu akan menjadi bencana demografi sehingga niat bangsa ini untuk keluar status negara low-middle income akan terhambat,” jelasnya.

Risiko naiknya jumlah pengangguran bisa terjadi, apalagi pendidikan kita tidak menyiapkan mereka untuk menghadapi zaman yang kian tak pasti.

“Pada saat banyak jenis pekerjaan digantikan tenaga mesin, serta SDM dihadapkan pada tantangan yang belum pernah ada sebelumnya, mental kuat dan kreativitas menjadi kunci utama untuk sukses,” tegasnya.

Itu berarti pendidikan harus memusatkan perhatian pada pengembangan karakter yang fleksibel dan tahan banting untuk menghadapi transisi yang super cepat di era revolusi internet.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, salah satu penyumbang angka pengangguran adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ia mengakui alasan lulusan SMK kurang banyak terserap ke dunia kerja.

“Rendahnya tingkat keterserapan lulusan SMK di dunia kerja merupakan sebuah fakta,” katanya.

Ia menambahkan, dunia kerja tidak mungkin siap untuk menyerap langsung siswa SMK, karena itu siswa akan melakukan pre-service training atau pelatihan kerja.

Sehingga, diperlukan revitalisasi SMK. Siswa SMK akan difokuskan untuk terserap di bidang pariwisata, pertanian produktif, ekonomi kreatif, kemaritiman, dan energi pertambangan.

Sumber: Viva

Tinggalkan Balasan