Boking Order Whatsapp, Modus Prostitusi Anak di Kota Palu

Boking Order Whatsapp, Modus Prostitusi Anak di Kota Palu
Foto: Illustrasi prostitusi anak di bawah umur.
Jangan Lupa Share

Berita kota palu, gemasulawesi- Ditreskrimum Polda Sulawesi Tengah bongkar praktek prostitusi anak Kota Palu. Modusnya lewat pesan whatsapp (WA).

“Modus yang digunakan pelaku adalah korban menerima Boking Order (BO) untuk pelayanan jasa prostitusi. Tarif bervariasi dari 300 ribu rupiah hingga 1,5 juta rupiah,” ungkap Kabidhumas Polda Sulawesi Tengah, Kombes Polisi Didik Supranoto didampingi Dirreskrimum Polda Sulteng Kombes Polisi Novia Jaya, di Mako Polda, Selasa 30 Maret 2021.

Pelaku prostitusi prostitusi anak Kota Palu, Sulawesi Tengah, mencari pelanggan anak-anak untuk Boking Order (BO) pelayanan seksual.

Ketika sudah mendapatkan pelanggan dan terjadi transaksi, korban memberikan tips hasil pelayanan jasa seksual kepada mucikarinya. Nilainya prostitusi anak Kota Palu bervariasi, mulai dari 50 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah.

“Kami membongkar praktek prostitusi anak dibawah umur di dua lokasi home stay berbeda di Kecamatan Palu Selatan,” jelasnya.

Target pertama penggrebekan kata dia, tertuju ke Home Stay C di Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu.

Saat penggrebekan, ditemukan 15 muda-mudi diantaranya terdapat anak dibawah umur di dua kamar home stay itu. Dilanjutkan ke Home Stay RJ di Jalan Anoa Kota Palu.

“Tim kembali menemukan tujuh muda-mudi di kamar 05 Home Stay RJ. Beberapa diantara juga di bawah umur,” tuturnya.

Totalnya, 22 muda-mudi diamankan. Tujuh diantaranya berstatus korban, mereka berinisial AN (16), MR (17), NM (17), BR (14), EE (23), S (19) dan RS (19).

Sedangkan empat orang lainnya ditetapkan tersangka prostitusi anak Kota Palu. Yaitu WS (22 th), HG (26 th), VR (17 th) dan MR (17 th).

“Empat yang ditetapkan tersangka, dua orang dilakukan penahanan. Dan dua tidak dilakukan penahanan karena dibawah umur,” terangnya.

Saat penggrebekan, polisi menemukan beberapa alat kontrasepsi, 13 buah handphone berbagai merk, pisau, pirex, korek, sedotan dan lainnya.

Pelaku prostitusi anak Kota Palu diduga melakukan tindak pidana exploitasi secara ekonomi dan seksual hingga menjadi mucikari.

Sehingga dijerat Pasal 88 Jo pasal 76 huruf (i) UU N0 35 Tahun 2014 Tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 296 KUHPidana, diancam dengan pidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 200 Juta.

“Korban terpaksa melakukan prostitusi karena terhimpit permasalahan ekonomi, kurang perhatian orang dan ada masalah di keluarganya,” tutupnya.

Baca juga: Tekan Pernikahan Dini, Parimo Gandeng Kemenag dan Pengadilan Agama

Laporan: Rafiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post