Banner Disperindag 2021 (1365x260)

BMKG Ingatkan Dampak Perubahan Iklim: Semua Daerah Mesti Siap

BMKG Ingatkan Dampak Perubahan Iklim: Semua Daerah Mesti Siap
Foto: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.

GemasulawesiKepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut kemungkinan terburuk akibat dampak perubahan iklim.

“Aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim butuh komitmen politik karena harus dimulai dari kepala daerah, diwujudkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD),” ungkap Dwikorita dalam keterangan tertulisnya, Jumat 6 Agustus 2021.

Ia mengatakan, pemerintah kabupaten dan kota harus sedari dini dampak perubahan iklim.

Baca juga: Fenomena Gelombang Panas, Lapisan Es Greendland Mencair Dua Kali Lipat

Contoh dampak perubahan iklim yaitu kejadian badai tropis, banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang dan kekeringan, diprediksi akan lebih sering terjadi dengan intensitas lebih kuat. Atau pun mencairnya es di puncak Jaya Wijaya, Papua.

“BMKG prediksi es di puncak Jaya Wijaya akan punah di tahun 2025 dan naiknya muka air laut,” sebut Dwikorita.

Dwikorita mendesak pemda untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu untuk mencegah risiko dan kerugian yang lebih besar.

Menurut Dwikorita, mengatasi persoalan perubahan iklim adalah tugas yang cukup menantang, karena ini membutuhkan komitmen yang kuat dari level pusat hingga daerah, dengan usaha-usaha komprehensif dan nyata.

Dia mengatakan semua pihak harus menyatukan persepsi kalau perubahan iklim merupakan ancaman yang nyata dan perlu segera dimitigasi.

“Jika komitmen hanya dilakukan satu daerah saja, maka hal tersebut, menjadi kurang berarti. Kita harus membangun persepsi bersama bahwa perubahan iklim ini adalah sebuah kerisauan dan ancaman bersama yang juga harus dimitigasi bersama-sama, karena dampaknya tidak mengenal batas administrasi. Masyarakat juga harus dilibatkan, tidak hanya pemerintah,” ujarnya.

Dwikorita membeberkan sejumlah fakta yang dirilis World Meteorological Organization (WMO) di mana suhu tahun 2020 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat meski terjadi La Nina.

Selain itu, temperatur rata-rata global permukaan bumi saat ini sudah mencapai 1,2 derajat celcius lebih tinggi dari pada tahun 1850-an.

Baca juga: 

2020, tahun terpanas di Indonesia

Di Indonesia sendiri, lanjut Dwikorita, berdasarkan pengamatan BMKG, tahun 2020 merupakan tahun terpanas kedua dalam catatan.

Pengamatan dari 91 stasiun BMKG menunjukkan suhu rata-rata permukaan pada tahun 2020 lebih tinggi 0,7°C dari rata-rata periode referensi tahun 1981-2010.

Situasi ini, kata dia, memicu pergeseran pola musim dan suhu udara yang mengakibatkan peningkatan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi.

Salah satunya adalah kejadian kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dipengaruhi kondisi kekeringan yang ekstrem, tetapi juga menyebabkan peningkatan emisi karbon dan partikulat ke udara.

“Saya berharap fakta-fakta ini dapat perhatian kita bersama guna mencegah pemanasan global semakin parah,” tutupnya. (**)

Baca juga: DPR: Mitigasi Pembelajaran Tatap Muka di Zona Hijau Covid-19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post