Banjir Bandang Torue, Akibat Alih Fungsi Hutan atau Faktor Alam?

waktu baca 3 menit
Ket Foto: Aliran sungai di jembatan Astina. (Foto/Aco/Ikhsan)

Berita Parigi moutong, gemasulawesi – Fakta tumpukan gelondongan kayu di lokasi banjir bandang Desa Torue Kecamatan Torue Kabupaten Parigi moutong, mengindikasikan adanya alih fungsi hutan di wilayah tersebut dibantah oleh warga setempat, faktor alam dianggap penyebab utama banjir bandang tersebut.

Laporan: Muhammad Ikhsan/Acho

Kondisi gestur tanah pada sejumlah gunung yang ada di kecamatan Torue disebut menjadi salah satu faktor yang berperan paling penting sebagai penyebab terjadinya longsoran pada banjir bandang yang melanda Kecamatan itu belum lama ini.

Penelusuran tim gemasulawesi.com di lokasi banjir bandang mengungkap sejumlah fakta lain terkait banjir bandang di Desa Torue. Sejumlah warga menyebutkan intensitas curah hujan yang tinggi membuat air dari sungai meluap dan luapan tersebut kembali melalui jalur lama sungai yang disebut oleh warga telah ‘mati’.

Saat menelusuri jejak banjir dan gelondongan kayu, wartawan media ini melihat kondisi sungai yang mengalami pendangkalan, banyak alur sungai baru yang tercipta akibat banjir itu.

Kondisi itu menguatkan keterangan warga sebelumnya, air bah itu datang melalui jalur sungai yang telah lama ‘mati’. Wartawan media ini juga coba menaiki gunung yang memiliki saluran irigasi diatasnya.

Gestur tanah perbukitan yang seperti pasir dengan bebatuan di bawahnya memang terlihat sangat rentan tergerus air dan menyebabkan longsor.

Jalur Sungai ‘Mati’ Faktor Alam Penyebab Banjir Torue

Penyebab Banjir Bandang Torue, Alih Fungsi Hutan atau Faktor Alam?
Ket Foto: Sungai ‘Mati’ di Desa Astina yang mengarah ke Jalur Desa Torue. (Foto/Aco/Ikhsan)

Menurut keterangan warga setempat, sejumlah pemukiman warga yang hilang diterjang banjir bandang belum lama ini tepat berada di area sungai ‘mati’ atau jalur sungai lama yang telah mengering.

Konsekwensi dari minimnya literasi warga terkait histori dari daerah itu menjadi awal dari malapetaka bagi sejumlah warga yang hilang tersapu banjir bandang.

Baca: Banjir Bandang Parigi Moutong, Tiga Meninggal dan Empat Hilang

Menurut keterangan warga setempat kepada gemasulawesi.com, kurang lebih sudah 4 tahun mereka tidak lagi berani menginjakkan kaki ke pegunungan di wilayah Torue.

Hal itu dibenarkan Kepala Dusun I Desa Torue, I Nyoman Aryawan kepada media ini, isu teroris berkeliaran di pegunungan membuat warga tidak lagi berani mengunjungi kebunnya.

“Mengolah kebun yang sudah ada saja diatas itu kami sudah tidak berani pak, apalagi mau menambah luas lahan. Kurang lebih 3 atau 4 tahunan kami sudah tidak naik lagi keatas,” ungkapnya.

Ia mengatakan, tumpukan kayu umumnya akan digunakan petani pembudidaya nilam, warga diketahui melakukan alih fungsi tanaman, dari coklat dan kelapa berganti menjadi nilam atau pohon durian.

Penyebab Banjir Bandang Torue, Alih Fungsi Hutan atau Faktor Alam?
Ket Foto: Aliran sungai di gunung Topi wajah mengarah ke jalur Sungai ‘Mati’ Desa Torue. (Foto/Aco/Ikhsan)

Lanjut dia, kondisi gestur tanah dilokasi perkebunan miliknya diatas gunung sangat rentan longsor.

“Kami lebih meyakini faktor lain seperti ketidak tahuan warga yang bermukim di sekitar jalur sungai ‘mati’ menjadi penyebab utama banjir bandang. Karena tidak ada penebangan lagi selama 4 tahun terakhir dilakukan warga setempat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pada tahun 1977 Kecamatan Torue pernah mengalami banjir bandang, 11 tahun kemudian di tahun 1988 kembali terjangan banjir melanda. Setelah 34 tahun sejak terakhir diterjang banjir, barulah pada tahun 2022 kembali banjir bandang menghantam. Menurutnya, kali ini dampaknya lebih besar dibanding yang sebelumnya.

Baca: Fasilitas Sekolah di Desa Torue Rusak Akibat Banjir Bandang

Umumnya yang menjadi korban banjir bandang adalah warga yang bermukim sekitar jalur sungai ‘mati’.

“Pemahaman terkait wilayah jalur sungai ‘mati’ penting untuk diketahui, sehingga warga bisa lebih waspada lagi kedepannya,” terangnya.

Namun demikian, sebagian warga yang ditemui media ini di lokasi banjir tidak menampik adanya kemungkinan aktifitas penebangan liar diatas gunung.

Sayangnya, warga enggan membahas lebih jauh terkait persoalan alih fungsi hutan dan terkesan tertutup terkait persoalan itu. (*)

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Baca: Korban Banjir Torue, Terima Bansos Gubernur Sulawesi Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.