2Banner GIF 2021

Amerika Serikat Siap Hadapi Covid 19 Varian Delta

Amerika Serikat Siap Hadapi Covid 19 Varian Delta
Foto: Illustrasi Covid 19.

Berita nasional, gemasulawesi– Amerika Serikat mengirim tim khusus ke sejumlah daerah yang anggap rawan, sebagai bentuk kesigapan menghadapi lonjakan kasus covid 19 varian delta.

“Covid 19 varian delta ini ditemukan di beberapa negara bagian dengan tingkat vaksinasi yang rendah,” Penasihat senior covid 19 Gedung Putih Jeffrey Zients, belum lama ini.

Tim khusus Amerika Serikat yang dikirimkan itu, siap melakukan sejumlah tes dan terapi ditengah melonjaknya kasus covid 19 saat ini.

Amerika Serikat mengebut vaksinasi di seluruh negara bagian dan diklaim sukses mengurangi penyebaran covid 19. Pada Januari, rata-rata kasus mencapai 250 ribu namun turun drastis pada pertengahan Juni menjadi 11 ribu kasus.

Namun adanya varian delta telah mendongkrak 10 persen kasus harian covid-19 menjadi 12.500, terutama di daerah dengan tingkat vaksinasi yang rendah.

Bahkan, lebih dari 180 juta orang dewasa di Amerika Serikat telah menerima suntikan vaksin, namun di 1.000 wilayah tingkat vaksinasi masih di bawah 30 persen.

“Komunitas yang banyak orang tidak divaksinasi adalah kelompok rentan,” katanya.

Baca juga: Amerika, Jadi Negara Pasien Corona Sembuh Terbanyak di Dunia

Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS Rochelle Walensky.

Daerah dengan kasus covid 19 tertinggi adalah Nevada dan Missouri. Selain itu Utah, Wyoming dan Nebraska.

Baca juga: Disdikbud: Guru Penggerak Parigi Moutong Bisa Jadi Inspirasi

Sebelumnya, Seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun di Micigan bernama Jacob Clynick, meninggal setelah menerima dosisi kedua vaksin covid 19 Pfizer. Kasus tersebut, sedang diselidiki oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

“CDC mengetahui seorang anak laki-laki berusia 13 tahun di Michigan yang meninggal setelah menerima vaksinasi covid 19. kasus saat ini sedang diselidiki dan sampai penyelidikan selesai, terlalu dini untuk menetapkan penyebab kematian yang spesifik,” ungkap Martha Sharan, petugas urusan masyarakat untuk gugus tugas vaksin Covid-19 CDC, menulis dalam sebuah pernyataan kepada Newsweek.

Baca juga: Longsor, Jalur Trans Sulawesi Tengah Palu-Kulawi Terputus

Pihaknya belum bisa memastikan penyebab bocah 13 tahun meninggal usai vaksinasi itu. Sebab masih sangat dini untuk meyimpulkan, karena proses penyelidikan sedang dilakukan.

Menurutnya, ketika efek samping yang serius, seperti kematian, dilaporkan ke Sistem Pelaporan Kejadian Buruk Vaksin (VAERS) setelah vaksinasi Covid-19, CDC meminta dan meninjau semua catatan medis yang terkait dengan kasus tersebut, termasuk sertifikat kematian, dan laporan otopsi. (***)

Baca juga: BPN Sebut Animo Daftar PTSL di Parigi Moutong Rendah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post