Home Ekonomi Bantu Petani, DTPHP Usulkan Alat Perontok Cengkeh

Bantu Petani, DTPHP Usulkan Alat Perontok Cengkeh

Bantu Petani, DTPHP Usulkan Alat Perontok Cengkeh DTPHP Parigi Moutong
Foto: Illustrasi Panen Cengkeh

Berita parigi moutong, gemasulawesi– Guna membantu petani, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) usul alat perontok cengkeh kepada kementrian Pertanian.

“Alat perontok cengkeh itu diperuntukkan bagi 50 petani di Parigi Moutong,” ungkap Kabid Hortikultura dan Perkebunan DTPHP Parigi Moutong, Rahmatia di kantor DTPHP Parimo, Jumat 6 November 2020.

Alat perontok cengkeh itu tujuannya untuk mempermudah para petani merontokkan cengkeh dari bunga dan batangnya.

Sehingga, jumlah cengkeh yang dihasilkan pun lebih banyak dibandingkan melakukannya secara manual.

Baca juga: Dugaan Jatah Jergen Solar Oknum Polres dan Polsek, Kapolres Parimo Akan Pulbaket

“Petani terkendala dengan lambatnya proses merontokkan cengkeh,” urainya.

Jadi, akan menghabiskan waktu yang lama untuk menghasilkan cengkeh kering siap jual.

Ia melanjutkan, 50 petani dalam dua kelompok petani cengkeh akan mendapatkan dua alat perontok itu.

“Kami telah mengusulkan proposal elektronik permintaan alat perontok cengkeh. Insya Allah terealisasi tahun 2021,” tuturnya.

Baca juga: Dua Mahasiswa di Kota Palu Ditahan Polisi

Sebelumnya, para petani di Parigi Moutong mengeluhkan harga komoditi anjlok selama pandemi covid 19.

“Tahun lalu harga komoditi di sini dibeli Rp80 ribu per kilogram. Awal tahun 2020 harganya turun sekali hanya Rp30 ribu dan memasuki musim panen saat ini harganya hanya Rp 50 ribu,” ungkap petani cengkeh di Desa Laemanta Utara, Rahma.

Padahal, nilai jual cengkeh sempat mencapai Rp 140 ribu per kilogram beberapa tahun lalu.

Baca juga: Pasokan Solar Langka, Petani di Parimo Menjerit

Meski anjlok, para petani mau tidak mau terpaksa menjual komoditi mereka dengan harga murah demi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebab, bertani komoditi tanaman itu merupakan satu mata pencaharian utama dan dari situ pula ia dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membesarkan tujuh anaknya.

Selanjutnya, petani cengkeh di Desa Amalalang Jamaluddin juga mengungkapkan keluhannya.

Ia berharap pemerintah daerah (pemda) setempat dapat mengambil langkah cepat agar harga komoditi tidak terus merosot.

“Dengan naiknya harga komoditi, perekonomian petani di sini dapat membaik,” tuturnya.

Terkait hal itu, Kabid Holtikultura dan Perkebunan DTPHP Parigi Moutong Rahmatia mengatakan, pihaknya tidak dapat berbuat banyak untuk mengintervensi harga cengkeh.

Sebab harga cengkeh sangat bergantung dengan permintaan pasar.

“Apalagi, pandemi covid 19 menyebabkan permintaan berkurang, sehingga harga cengkeh turun,” tutupnya.

Baca juga: Jadikan Sigi Sulteng Pemasok Bawang Merah, BI Bantu Petani

Laporan: Rafiq

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.