Jurnalis Itu ‘Trust Industri’

IJK Sulawesi Tengah, Kupas Etik Jurnalis Kredibel (II)

0
25
AJI Sulawesi Tengah, Jurnalis Itu ‘Trust Industri’
Pelatihan IJK- Jurnalis se-Sulawesi Tengah megikuti materi pada Pelatihan Etika Dalam Pemberitaan yang dilaksanakan Ikatan Jurnalistik Kriminal Sulawesi Tengah (IJK) di Hotel Amazing, Palu Sulawesi Tengah, Sabtu, 7 Desember 2019. GemasulawesiFoto/Muhammad Rafii

KuTu, gemasulawesi.comJurnalis itu ‘trust industri’, seperti itulah ungkapan Ketua Aliansi Jurnalistik Indonesia atau AJI Sulawesi Tengah, Iqbalovski Muhamad mengupas etika jurnalis kredibel.

Ketua AJI Sulawesi Tengah didaulat sebagai narasumber pada pelatihan jurnalistik yang diadakan Ikatan Jurnalis Kriminal (IJK) beberapa waktu lalu.

Mengapa jurnalis itu trust industri? Sebab, jurnalis sebagai ‘trust industri’ berhubungan erat dengan produk artikel berita yang akan dibaca khalayak ramai.

Iqbal juga menjelaskan, beragam reaksi akan timbul dari hasil artikel berita yang dihasilkan jurnalis, tergantung dari pembaca. Namun, itu merupakan hal normal.

Idealnya, jurnalis itu tidak netral. Mesti berpihak pada fakta dan kebenaran. Menyuarakan yang tidak bersuara. Menjunjung tinggi proporsonalitas.

Selain itu, moralitas juga ambil peranan dalam dunia jurnalistik. Seorang jurnalis mesti mengasah kepekaan terhadap kondisi sosial warga. Dibutuhkan kepekaan diatas rata-rata dari warga biasanya.

Jurnalis penting untuk menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah dalam sebuah tulisan artikel berita.

Baca juga: IJK Sulawesi Tengah, ‘Kupas’ Etik Jurnalis Kredibel

Keberimbangan berita atau artikel mutlak dipenuhi seorang jurnalis kredibel. Cover both side dituntut dijalankan seperti kaidah dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Menarik mendalami dunia jurnalistik. Pena seorang jurnalis dapat digambarkan seperti belati yang mampu melukai siapapun ataupun sebaliknya, tergantung dari produk berita itu sendiri.

Menurut Iqbal, jurnalis terkhusus media online sangat rentan terkena UU ITE, bila tidak memperhatikan kaidah jurnalistik.

Walaupun, AJI sendiri menentang UU ITE. AJI Sulawesi Tengah berpendapat UU yang mengatur informasi dan transaksi elektronik berpasal karet. Pasal dalam UU itu bisa menyerang siapa saja.

Sebuah artikel berita patut memiliki kebenaran informasi. Data awal yang sudah melalui proses validasi. Setelah terverifikasi dan tervalidasi, kemudian seorang jurnalis mengkonfirmasi narasumber yang dianggap kredibel. Tujuannya, untuk keberimbangan dalam berita.

Dalam KEJ pun diatur mengutip pernyataan seseorang dari media sosial. Tidak bisa dengan sembarangan mengambil pernyataan tanpa izin atau konfirmasi dari yang mengeluarkan pernyataan.

Akhirnya, AJI menghimbau kepada seluruh jurnalis yang tergabung dalam wadah IJK untuk dapat mendaftarkan medianya ke Dewan Pers. Tujuannya, agar seluruh insan pers dapat terhindar dari jeratan “pasal karet” UU Pers.

Baca juga: Sidang Hantje vs Bupati Parigi Moutong, Terungkap Nico cs Minta Dana Untuk Mahar Partai

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan