8 Tradisi Unik Perayaan Idul Adha di Indonesia Yuk Disimak!

waktu baca 5 menit
pencucian benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Gowa atau Accera Kalompoang. (Foto Istimewa)

Berita Kupas Tuntas, gemasulawesi – Selain perayaan Idul Fitri, umat Islam juga merayakan hari raya Idul Adha setiap tahunnya, berikut 8 ragam tradisi unik perayaan Idul Adha di Indonesia yuk disimak!

  • Accera Kalompoang, Gowa

Tradisi Idul Adha unik pertama di Indonesia berasal dari daerah Gowa Sulawesi Selatan yang disebut Accera Kalompoang dan disakralkan.
Umumnya, Accera Kalompoang diadakan dua hari berturut-turut sebelum dan saat Idul Adha.

Accera Kalompoang adalah ritual mencuci benda-benda peninggalan Kerajaan Gowa yang masih disimpan di Istana Balla Lompoa. Upacara ini berlangsung di rumah adat Balla Lompoa atau Istana Raja Gowa.

Menurut catatan sejarah, prosesi itu sendiri dimulai pada masa pemerintahan raja Gowa yang ke-14, yaitu Sultan Alauddin, Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam.
Manten Sapi, Pasuruan

Indonesia memiliki tradisi Idul Adha berbeda yang tak kalah menarik dari daerah Gowa tentunya. Tradisi tersebut disebut Manten Sapi yang biasa dilakukan di Pasuruan.

Manten Sapi berlangsung sehari sebelum Idul Adha. Masyarakat Desa Watestani, Kecamatan Grati, Pasuruan akan menggelar ‘Manten Sapi’ yang dalam bahasa Indonesia artinya pengantin sapi.

Tradisi ini dilakukan sebagai penghormatan kepada sapi atau hewan kurban lainnya yang akan disembelih. Sapi yang akan disembelih juga dihias dengan indah sebelum diserahkan ke masjid atau panitia kurban.

Acara Manten Sapi diawali dengan memandikan sapi dengan air kembang hingga bersih. Selanjutnya, sapi itu dihiasi dengan karangan tujuh jenis bunga, dan tubuhnya ditutupi dengan kain putih untuk mempercantik diri sebagai pengantin. Setelah itu, warga sekitar membawa sapi-sapi tersebut ke masjid.

Tradisi Manten sapi semakin meriah saat ratusan ibu-ibu membawa berbagai peralatan rumah tangga berisi bumbu masak untuk persiapan penyembelihan dan pengolahan daging.

Baca: Ratusan Buruh Migran Indonesia Meninggal Dunia di Penjara Malaysia

  • Ngejot, Bali

Sedangkan tradisi Idul Adha di Bali disebut Ngejot. Tradisi Ngejot merupakan kegiatan rutin umat beragama di Bali yang diadakan untuk memperingati hari-hari besar keagamaan seperti Idul Adha.

Tradisi ini dilakukan dengan berbagi makanan, minuman, dan buah-buahan sebagai bentuk terima kasih kepada tetangga non-Muslim yang memiliki toleransi tinggi.

Ngejot dilakukan oleh komunitas Muslim di Bali dan tradisi ini telah diturunkan dari generasi ke generasi dengan tujuan untuk mempererat toleransi dalam beragama.
Tradisi Apitan di Semarang

Tradisi Idul Adha Apitan biasanya dirayakan di Semarang. Tradisi Apitan ini merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

Di Semarang tradisi ini biasanya diisi dengan pembacaan doa dilanjutkan dengan prosesi hasil pertanian, ternak dan kemudian hasil pertanian yang diarak dibawa oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini diyakini sudah menjadi kebiasaan para Wali Songo di masa lalu, sebagai ungkapan rasa syukur saat merayakan Idul Adha. Tidak hanya gunungan berupa hasil bumi atau arak-arakan ternak, hiburan khas kearifan lokal juga ditawarkan kepada siapa saja yang menyaksikan tradisi Apitan. Wah, sepertinya menarik banget, ya!

Baca: Tradisi Pasang Lampu di Parimo, Penanda Ramadhan Berakhir

  • Gamelan Sekaten, Surakarta

Gamelan Sekaten merupakan salah satu sarana penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Wali Songo pada zaman dahulu.

Hingga saat ini Gamelan Sekaten masih dilestarikan sebagai tradisi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri hingga Idul Adha.

Tradisi gamelan sekaten biasanya ditandai dengan rangkaian musik gamelan, biasanya dimainkan lepas sholat Idul Adha.

Biasanya, orang-orang menonton gendhing- gendhing Jawa dari istana sambil mengunyah kinang (sekapur sirih). Harapannya agar diberikan umur panjang dan kesehatan sehingga dapat menyaksikan kembali tradisi Sekaten tahun depan.

  • Grebeg Gunungan, Yogyakarta

Tradisi Idul Adha populer lainnya yang dirayakan oleh orang Indonesia adalah Grebeg Gunungan di Yogyakarta.

Sepintas tradisi Idul Adha ini mirip dengan tradisi Apitan yang sering dilakukan oleh masyarakat Semarang.

Grebeg Gunungan juga dilakukan dengan mengarak hasil bumi umat Islam dari halaman Keraton menuju Masjid Kauman Gede.

Prosesi produk ini terdiri dari tiga gunung yang terdiri dari deretan sayuran dan buah-buahan.

Grebeg Gunungan diadakan pada setiap hari penting Islam yaitu pada saat Idul Fitri dikenal dengan istilah Grebeg Syawal dan pada saat perayaan Idul Adha disebut dengan tradisi Grebeg Gunungan.

Masyarakat Yogyakarta percaya bahwa jika mereka berhasil memakan produk yang disusun dalam bentuk gunung, mereka dapat membawa rezeki. Maka tidak heran jika banyak orang yang mengikuti setiap Grebeg Gunungan.

Baca: Anggota TNI Dikeroyok Juru Parkir Liar di Makassar Usai Belanja

  • Jemur Kasur, Banyuwangi

Tradisi Idul Adha lainnya yang juga unik adalah mepe kasur atau dalam bahasa Indonesia masyarakat suku Osing menyebutnya menjemur kasur di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur.

Biasanya kasur yang digunakan adalah kasur gembil merah dan hitam. Merah berarti berani dan hitam berarti tahan lama.

Sebelum tradisi menjemur kasur dimulai, biasanya tarian gandrung dipentaskan terlebih dahulu. Kasur tersebut kemudian dijemur di bawah sinar matahari dari pagi hingga petang sambil dipukul-pukul dengan keranjang atau gagang sapu agar tetap bersih. Menariknya, masyarakat juga menjemur kasur di depan rumahnya secara bersamaan.

Tradisi yang dilakukan sebelum Idul Adha ini memiliki makna untuk menghindarkan bala dari bencana atau penyakit dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pada malam hari, masyarakat Osing juga melakukan tradisi lain, yaitu Tumpeng Sewu.

  • Meugang, Aceh

Tradisi Idul Adha selanjutnya dari tanah air adalah tradisi Meugang Aceh. Tradisi Meugang berasal dari kata Makmeugang, sebuah tradisi yang menandakan pembagian daging sapi atau kerbau, yang diolah dengan berbagai macam masakan.

Kisah Meugang sendiri bermula pada masa kerajaan Aceh yang dilakukan dengan cara menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada masyarakat secara gratis.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kemakmuran tanah Aceh dan masih dilestarikan juga dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Aceh saat menyambut hari besar suci umat Islam, yakni hari raya Idul adha.

Yaps, itu dia 8 ragam tradisi unik perayaan Idul Adha yang ada di berbagai Daerah Indonesia. Menarik kan! (*/Ikh)

Baca: Mahasiswi di Kota Makassar Tewas Jatuh dari Gedung Graha Pena Fajar

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.