520 Ekor Hewan Ternak di Sulawesi Selatan Terpapar PMK

waktu baca 3 menit
Petugas melakukan penyemprotan dikandang (Ilustrasi Gambar)

Berita Kesehatan, gemasulawesi – 520 ekor hewan ternak di Provinsi Sulawesi Selatan, terpapar virus Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) berdasarkan laporan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan.

Hal itu diungkapkan Nurlina saat rapat di Kantor DPRD Sulawesi Selatan, Makassar, Senin 18 Juli 2022.

“Untuk total 26 kecamatan terjangkit virus PMK, dengan total 41 desa. 520 ekor hewan ternak sakit (terinfeksi) dan 453 hewan terpisah (karantina),” ucap Nurlina saat rapat dengar pendapat di kantor DPRD Sulawesi Selatan, Makassar, Senin 18 Juli 2022.

Ia menjelaskan, data tersebut diperoleh dari hasil pemetaan di sembilan kabupaten yang menjadi wilayah zona merah. Kasus pertama ditemukan pada 28 Juni 2022 di Kabupaten Tana Toraja.

Baca: DKP Sulawesi Selatan Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Pangkep

Disusul Toraja Utara pada awal Juli 2022, kemudian berlanjut di Kota Makassar, Kabupaten Bone, Bantaeng, Jeneponto, Gowa, Takalar und Enrekang pada 15 Juli 2022.

Ia menjelaskan sudah terjadi di sembilan kabupaten di Sulawesi Selatan dalam dua minggu ini. Kasus pertama yang kami temukan di Tana Toraja terjadi di lima kecamatan dengan tujuh desa terinfeksi. Penyakit ternak ditemukan pada 31 ekor kerbau. Dari laporan dinyatakan sudah sembuh.

Selain itu, di Kabupaten Toraja Utara terdapat 12 kecamatan, 22 desa terjangkit 129 sapi dipotong bersyarat, 10 ekor, enam mati, 13 hewan sembuh, sisanya kasus 109. Penularan itu, kata dia, sangat tinggi karena penyebarannya luas ditemukan di Pasar Bolu, pasar hewan terbesar di pulau Sulawesi.

Di Bone, satu kecamatan yang memiliki dua desa terjangkit. Kasusnya sampai saat ini ada 84 ekor, tiga mati dan tersisa 81ekor.

Kemudian Kota Makassar dalam satu kelurahan, satu kelurahan, hingga 10 ekor, empat dipotong bersyarat, dan sisanya enam ekor. Di Gowa, satu kecamatan, satu desa, lima kasus diterima dan satu antrian diputus bersyarat, tersisa empat.

Sedangkan di Kabupaten Bantaeng, ada 15 ekor di dua kecamatan, dua desa. dipotong secara bersyarat sebanyak tujuh ekor, tersisa delapan ekor.

“Ada dua kecamatan di Kabupaten Jeneponto, dua desa terjangkit. Ini agak mengejutkan karena jumlah hewan yang terifenksi 232, satu ekor dipotong bersyarat, sisanya 231, Jeneponto ini terjadi penularan di area pengembalaan,” ungkapnya.

Sedangkan di Kabupaten Bantaeng, penularan di dua kecamatan, dua desa sebanyak 15 ekor. Dipotong bersyarat tujuh ekor tersisa delapan ekor.

Di Takalar ditemukan satu kecamatan, satu desa, ada 113 ekor yang tercatat. Sementara itu, pengawasan bersyarat tidak dilakukan di Kabupaten Enrekang, satu ekor untuk satu desa.

“Langkah-langkah kami ambil sebelum wabah terjadi, pemerintah provinsi mengeluarkan SK gubernur untuk memantau semua kabupaten dan kota agar mewaspadai masuknya PMK. Selain itu, dibentuk satgas PMK dengan perwakilan dari Forkompinda dan dibentuk satgas internal yaitu Tim Crisis Center atau hotline bagi masyarakat untuk bertanya tentang PMK,” ucapnya.

Selain upaya pencegahan, Nurlina menambahkan, obat-obatan pencegahan telah didistribusikan untuk mencegah infeksi sekunder dari luka di mulut dan kaki, karena virus penyakit mulut dan kuku (PMK) ini belum ada obatnya. Selain tindakan disinfeksi, 15 ribu dosis vaksin dari Kementerian Pertanian juga didistribusikan ke wilayah zona merah. (*/Ikh)

Baca: Resep Getuk Magelang Yang Super Legit

Ikuti Update Berita Terkini Gemasulawesi di : Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.