2Banner GIF 2021

2020, Parigi Moutong Target Pengentasan Orang Dengan Gangguan Jiwa

2020, Parigi Moutong Target Pengentasan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Rakor ODGJ- Pemda Parigi Moutong Target Pengentasan ODGJ pada tahun 2020. Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi di ruang kerja Wabup Parimo, Rabu 4 Maret 2020. GemasulawesiFoto/MuhammadRafii.

Parigi moutong, gemasulawesi.comPemda Parigi Moutong (Parimo) menargetkan pengentasan Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ pada tahun 2020.

“Penderita ODGJ Parigi Moutong hingga akhir tahun 2019, mencapai hingga 29 orang. Targetnya, akhir 2021 sudah tidak ada lagi yang mengalami gangguan jiwa,” ungkap Wakil Bupati Parigi Moutong, H Badrun Nggai, saat rapat koordinasi upaya pencegahan dan penanganan masalah pemasungan penderita ODGJ di ruang kerja Wakil Bupati, Rabu 4 Maret 2020.

Menurutnya, masalah pemasungan Orang Dengan Gangguan Jiwa di Parigi Moutong itu melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Selayaknya, penderitanya diarahkan untuk memiliki keterampilan. Sehingga, begitu sembuh mereka bisa langsung berinteraksi ditengah-tengah warga.

Terkait ODGJ lanjut dia, pihaknya meminta ada penanganan khusus dan ditopang dengan anggaran yang memadai. Rapat koordinasi yang melibatkan beberapa instansi terkait diperlukan untuk memecahkan masalah itu.

“Data awal penderita ODGJ di Parigi Moutong mencapai 55 orang sekitar tahun 2017. Hingga saat ini mengalami tren angka penurunan,” jelasnya.

Ia mengatakan, perlu ada intervensi penanganan khusus. Misalnya, penanganan aspek medis, aspek psikologis dan aspek sosial kemasyarakatan.

Terkait intervensi khusus masalah pemasungan penderita ODGJ, Kepala Dinas Kesehatan Parigi Moutong dr Revi J.N Tilaar mengatakan, pihaknya membutuhkan paling tidak dua pilihan.

“Opsi itu diantaranya, Parigi Moutong membutuhkan ruang perawatan khusus di Rumah Sakit bagi penderita ODGJ,” terangnya.

Selain itu, juga dibutuhkan adanya Rumah Singgah bagi penderita ODGJ yang sulit mengakses layanan khusus Rumah Sakit.

Penderita ODGJ kata dia, sangat membutuhkan layanan dan perawatan khusus. Alasannya, mereka dipastikan mengalami mal nutrisi, mengidap penyakit, dehidrasi dan resiko kematian.

Ahli psikiater kejiwaan Rumah Sakit Anuntaloko, dr Andini Syamsinar pun menguatkan perkataan Kepala Dinas Kesehatan Parigi Moutong.

“Menurut pengalaman selama menangani permasalahan pemasungan penderita ODGJ, sudah pernah ada kasus penderita yang meninggal dunia,” tuturnya.

Sedihnya, penderita itu meninggal bukan karena faktor gangguan jiwanya, tetapi faktor pemasungan yang ikut menimbulkan masalah baru.

Penderita ODGJ itu kata dia, layaknya dirawat di ruang khusus untuk mendapatkan observasi awal selama 15 hari pertama.

“Lalu diberikan obat-obatan yang dianggap mampu mengurangi gangguan jiwanya,” tutupnya.

Baca juga: BKPSDM Parigi Moutong Ungkap Modus Oknum Janjikan Kelulusan Ujian CPNS

Laporan: Muhammad Rafii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Related Post