17 Anak Dibawah Umur Jadi Pekerja Hiburan Malam di NTT

waktu baca 2 menit
Foto: Illustrasi penggrebekan Polda NTT di tempat hiburan malam.

Berita nasional, gemasulawesi– Sebanyak 17 anak berusia dibawah umur terjaring kegiatan operasi malam Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka jadi pekerja hiburan malam di wilayah Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.

“Anak-anak di bawah umur itu terjaring dalam kegiatan operasi malam di tempat-tempat hiburan yang dilakukan oleh aparat kepolisian pada Selasa 15 Juni 2021 malam,” Kabid Humas Polda NTT, Kombes Rishian Krisna Budhiaswanto saat dikonfirmasi, Rabu 16 Juni 2021.

Sebelumnya, dalam pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, hanya 16 anak saja yang ditemukan di bawah umur.

Tetapi ketika diselidiki lebih mendalam, ternyata jumlahnya bertambah lagi satu. Sehingga, menjadi 17 orang anak di bawah umur jadi pekerja hiburan malam.

Kegiatan operasi malam, dilakukan pihaknya setelah mengumpulkan laporan, dan informasi dari warga mengenai lokasi-lokasi tempat hiburan malam dapat disasar.

Kemudian, terpetakan sebanyak empat lokasi tempat hiburan malam dengan inisial L, S, B dan SH untuk disisir aparat.

Baca juga: Kasus Covid Parimo Ikut Sumbang Lonjakan Kasus Sulteng

Atas temuan anak jadi pekerja hiburan malam, Polisi akan segera memeriksa pemilik tempat-tempat hiburan tersebut untuk mendalami dugaan eksploitasi terhadap anak.

“Akan segera periksa pemilik tempat hiburan malam, karena mempekerjakan anak di bawah umur,” tuturnya.

pada Pasal 74 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan:

(1) Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang terburuk.

(2) Pekerjaan-pekerjaan yang terburuk yang dimaksud dalam ayat (1) meliputi:

  1. segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya;
  2. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan,atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian;
  3. segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; dan/atau;
  4. semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak.

Lebih lanjut diatur dalam Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (“UU 35/2014”), diatur bahwa setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap Anak.

Adapun sanksi atas pelanggaran Pasal 76 I diatur dalam Pasal 88 UU 35/2014, yaitu pelanggarnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Ini artinya, pengusaha maupun orang tua yang mempekerjakan anak di dunia entertainment dengan tujuan untuk dieksploitasi secara ekonomi diancam pidana sesuai Pasal 88 UU 35/2014. (***)

Baca juga: Kasus Harian Covid Parimo Cetak Rekor, 38 Orang Terkonfirmasi Positif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.